Jama Masjid Delhi Tempat Ibadah yang Komersil

22:20

 
Hari terakhir kami di India, pagi itu kami memutuskan batal berkunjung ke Agra karena beberapa hal yang tidak memungkinkan kami pergi ke Agra. Jaraknya yang cukup lumayan jauh, kendala transportasi dan kemungkinan biaya yang membengkak jauh diluar perkiraan gara-gara kena palak dimana-mana sejak hari pertama.

Kami memutuskan untuk pergi ke Jama Masjid Delhi dan mencari titipan seorang teman atau mungkin bisa ke Janpath market (padahal kami belum tau lokasinya).

Pagi, kami buru-buru turun untuk sarapan, seperti biasa menu pilihan saya selama di India buah-buahan sebagai pembuka, kemudian croissant dan omelet masala, i prefer plain omelet with cheese, tapi yang disediakan untuk peserta conference tidak ada cheese, hanya pagi pertama dimana kami masih sarapan sendiri bisa dapat omelet (without masala) with cheese.
Ketika makan, akhirnya mulai ada peserta yang datang (kami selalu jadi yang pertama nangkring saat jam makan)

Usai sarapan kami bergegas kembali ke kamar dan bersiap untuk pergi. Kami masih akan menitipkan koper kami di hotel sementara kami ke Old Delhi, karena perhitungan kami lebih mudah begitu dan menurut pengalaman waktu pertama kali datang jarak dari bandara ke hotel tidak terlalu jauh.
Hari itu kami juga sudah yakin 100% akan menggunakan metro untuk transport, selain lebih ekonomis juga bisa berbaur dengan penduduk India.

Setelah menitipkan koper, kami pun berangkat dengan berjalan kaki ke stasiun metro yang tidak terlalu jauh dari hotel sekitar 200 meter saja. Tujuan kami ke MG road dimana terdapat beberapa mall, karena teman saya butuh mencari buku berbahasa Hindi titipan seorang teman.
Sampai di MG road sekitar jam 9 lebih, dan ternyata semua toko buka baru nanti jam 11, wah… mati gaya tidak ada koneksi internet, dan mesti menunggu seperti itu. Kami akhirnya kembali ke stasiun metro MG road yang sangat dekat dengan mall. Taukah…mall di Indonesia lebih keren dan lebih besar dibanding disana.


 Di stasiun metro kami akhirnya menemukan cafe yang bertuliskan free WiFi, langsung semangat kami kembali datang. Masuklah kami di cafe tersebut dan duduk sambil membaca menu (…dan harga) yang tersedia. Berhubung kami sudah makan dan satu-satunya alasan kami masuk kesitu untuk menggunakan WiFi jadi kami hanya berniat memesan minum.
Saya lebih memilih memesan ice cream yang variannya cuma 1 yaitu vanila. Waktu membaca menunya kami sudah merasa happy,…begitulah, tetapi mendadak kenyataan berubah, Tapi ternyata…harga segitu dapatnya seuprit contohnya ice cream vanila pesanan saya hanya dapat 1 scoop super kecil dengan harga sekitar 30 ribuan rupiah, langsung kami tertawa mengenaskan, sampai teman saya juga bilang ya…lumayan sih tidak mahal buat bayar wifi. Setelah mengetahui ternyata tidak ada WiFi rasanya nyesel kenapa kemarin tidak persiapan mending menggunakan provider Indonesia 200 ribu perhari daripada begini. Karena kami berdua ini internet addict.

Cukup waktu ngobrol dan menentukan tujuan berikutnya di cafe (…tak ber WiFi) kami meneruskan perjalanan ke Chandni Chowk, tujuannya ke Jama masjid Delhi tepatnya di Old Delhi, yang masih berdekatan dengan Red Fort tempat yang kami kunjungi kemarin. Kami masih menggunakan metro, walaupun tidak dapat tempat duduk kami enjoy menikmati perjalanan yang cukup jauh.

Sampai di Chandni Chowk, kami keluar dari area stasiun dengan berjalan menuju ke jalan utama, tujuan kami nanti naik rikshaw murah meriah ke Jama masjid yang pastinya tidak jauh dari situ.
Akhirnya kami dapat rikshaw yang pengemudinya bisa berbahasa Inggris. Waktu kami tanya tarif dia bilang terserah nanti you happy i’m happy, sudah mulai curiga aja kalau di depan tidak mau pasang tarip begini. Kami berangkat ke Jama masjid Delhi yang lumayan jauh ternyata kalau ditempuh dengan berjalan kaki (mungkin ada jalan tembusnya sih cuma kami kan tidak tahu).

Jaraknya 2x perjalanan kami kemarin dari Red Fort ke stasiun metro, sampai di depan Jama masjid tukang rikshaw ini bersikeras menunggu kami (…aduh menambah kuat firasat buruk). Kami berjalan menuju Jama masjid Delhi, dan menaiki anak tangga masjid yang lumayan. Masjid ini sama dengan Red Fort maupun Qutub Minar, warnanya kemerahan dan tampak kokoh, benar-benar kagum dengan manusia jaman dulu yang begitu hebatnya membangun bangunan seperti ini.

Sampai diatas anak tangga terakhir, ada penjaga masjid yang meminta bayaran 300 rupee per orang, padahal sesuai blog-blog yang saya baca di Jama masjid ini gratis tidak perlu bayar, ya sudah lah itung-itung infaq. Tidak cuma sampai disini, kami agak setengah dipaksa beli sandal (…seperti sandal yang disediakan hotel) seharga 20 rs. Kami langsung menolak, dan dengan penuh percaya diri lebih memilih bertelanjang kaki memasuki area masjid, dan membawa alas kaki kami di tangan. Si bapak penjaga bilang taruh aja sandal disini ga usah dibawa, saya berpikir mungkin ya emang begitu seperti masjid-masjid disini kan taruh di lantai luar masjid seperti biasa walaupun sempat saya lihat beberapa pengunjung menenteng alas kaki mereka di tangan memasuki masjid.



Berjalanlah kami masuk ke dalam area Jama masjid. Super panas itu kesan kami begitu menapaki dalam masjid yang berupa ruang terbuka tanpa atap. Kami harus menuju ke area yang beratap karena disitulah para pengunjung “berteduh”. Ternyata ini alasan kenapa si bapak diluar menjual sandal, sumpah tidak kebayang panasnya jika kami menapak tanpa kain tebal yang dihamparkan seperti jalan setapak. Menggunakan kain tebal pun sudah cukup membuat kaki kami melepuh dengan suksesnya, meski kami berjalan cepat, sempat sih waktu masuk ada berbarengan dengan laki-laki yang kepo banyak tanya (sudah curiga mau dipalak lagi), untung sampai di tempat manusia berkumpul kami berpisah (kami kabur ke arah berbeda). Tidak banyak yang bisa kami lakukan di masjid ini, paling hanya bisa ambil photo dari satu sisi saja, mengingat super panasnya lantai area masjid ini membuat kami mengurungkan niat untuk narsis photo di berbagai tempat. Niat salat di masjid ini pun urung, melihat tempat wudlu nya berada di tengah area yang tak beratap yang pastinya cukup bikin terpanggang, tidak kebayang juga gimana airnya (pasti panas juga). Walau begitu cukup lumayan juga yang wudlu disitu, tapi mereka mengenakan alas kaki.

Keluar dari area masjid kami mengambil alas kaki (saya bersandal jepit ria), dan…ternyata disuruh bayar lagi 20 rs jasa penitipan, what ?!? Begini tadi mau dibawa tidak boleh, benar-benar penipuan, itu cukup buat beli sandal jepit baru kaleee…
Sambil menggerutu kami berjalan menjauhi Jama masjid yang sungguh tidak ramah pada kami, menuju rikshaw yang menunggu kami tidak jauh dari situ.

Meluncur menuju tempat rempah-rempah untuk mencari cabai india pesanan teman dan balsam pesanan teman yang lain. Si tukang rikshaw ternyata punya kerjasama dengan pedagang-pedagang di area situ, kami diturunkan di salah satu toko yang lumayan lengkap, rempah-rempah, kismis, buah-buahan kering…ngiler penampakannya cantik-cantik sayang beneran ngerem…rupee nya minimalis, hampir habis.
Tapi ternyata disitu jual teh juga, jadi galau deh. Akhirnya saya menambah belanjaan white tea dan masala tea untuk papa, India memang terkenal dengan penghasil teh, dan white tea ? Tidak mudah ditemukan di toko-toko kan…mumpung ada lah, begitu pikir saya, jadi membuat niat beli cabai dan balsam saja jadi membengkak budgetnya karena white tea harganya lumayan juga.

Beranjak keluar dari toko rempah-rempah, kami sudah lemas, uang yang ada di dompet saya (rupee) minimalis mudah-mudahan cukup untuk bekal kami ke bandara nanti malam dan makan siang hari ini. Niat cari sesuatu lagi tapi bilang ke tukang rikshaw untuk ke money changer terlebih dulu untuk menukarkan usd demi membayar dia dan lain-lain (saya waktu itu punya firasat kami akan kekurangan uang walaupun sudah dihitung kira-kira cukup buat lunch dan bayar metro).
Ternyata si tukang rikshaw malah mengantarkan kami ke toko perlengkapan saree, stress langsung, kami kesana tanpa membawa rupee. Akhirnya setelah membeli sesuatu buat saudara dan teman dekat yang ternyata tokonya mau dibayar menggunakan usd Alhamdulillah.
Segera kami putuskan untuk pulang saja sebelum budget membengkak lagi, sampai di stasiun metro ternyata si tukang rikshaw minta 50 usd, langsung dunia terasa gelap, ini pemalakan jilid ke berapa ya, dan memang ternyata sebenarnya 5 usd aja udah cukup buat bayar. Pengalaman memang mahal harganya.Semahal rikshaw India !

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts