Karimunjawa Batu yang Terbuang dari Jawa

23:51


 Liburan ke Karimunjawa, sudah direncanakan jauh hari bahkan tepatnya sebelum lebaran. Fixed akhirnya memutuskan untuk ikut share cost group yang saya temukan di forum BPI (backpacker Indonesia). Sepertinya sih lebih murah, karena saya pikir tidak menggunakan jasa tour dan sejenisnya, but who knows what will happen.

Batal berangkat melalui pantai Kartini Jepara, rombongan langsung menggunakan kapal cepat dari Semarang yang harga tiketnya sebesar Rp. 133.000,- (saya menyarankan untuk upgrade ke kelas VIP yang cuma selisih 20 ribu dan jauh lebih nyaman)


Kami berangkat ber 25 orang, yang berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Cilegon, Yogyakarta, Solo, Kudus, dan Semarang. Seru ya mengenal orang-orang baru yang berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan. Sehari sebelumnya beberapa dari kami sudah berkumpul di Simpang Lima karena berhubung Semarang sebagai transit dan kapal berangkat jadwalnya lumayan pagi maka setidaknya malam sebelumnya harus sudah kumpul semua.
Kebayang kan 25 orang share cost ? unbelievable…ini layaknya pemberangkatan tour yang cukup besar, tapi cukup asik sih walaupun jadi agak bingung untuk mengingat nama satu persatu orang.

Masuk ke dalam kapal cepat, ini pengalaman pertama saya naik kapal cepat. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 3.5 jam. Waktu yang lumayan untuk terombang ambing di laut, nikmati sajalah.
Kami berada di kelas bisnis, tempatnya cukup bersih, ada 2 layar televisi yang bisa jadi hiburan saat perjalanan. AC pun cukup memadai di ruangan kelas bisnis tersebut, well not bad lah…saya berpikir begitu.

Kapal mulai berjalan, beberapa dari kami sudah pindah ke alam mimpi, sedangkan saya yang sudah jelas susah buat tidur tentunya harus menikmati perjalanan 3.5 jam ini. Setengah jam awal saya sudah mulai resah, menanyakan jam pada teman yang duduk di sebelah saya yang juga tak kalah resahnya. Guncangan ombak yang aduhai tentunya membuat kami lumayan mual dan pusing.
Baiklah mungkin itu saatnya saya pindah ke alam lain walaupun entah dimana karena jelas saya tidak pernah bisa ke alam mimpi dengan kondisi seperti itu.
Dengan berbekal doping permen fisherman’s friend (maybe im a fisher(wo)man) saya cukup menutup mata dan bernafas demi say goodbye ke rasa pusing dan mual yang sumpah sulit sekali disuruh pergi. Tak terhitung lagi berapa permen yang saya hisap hingga 30 menit sebelum kapal berlabuh di Karimunjawa.

Karimunjawa, Kapalpun berlabuh, ga terkira lega rasanya. Cuaca cukup panas, tapi anehnya tidak sepanas Jepara waktu saya berkunjung selama seminggu bulan April lalu walaupun matahari tetap panas menyengat. Sambil menunggu angkutan yang akan membawa kami ke homestay tempat kami menginap, biasa para banci kamera photo-photo terlebih dahulu.

Mobil yang mengangkut kami berupa pick up alias bak terbuka, berasa jadi pedagang sayur dadakan. Sebenarnya tidak terlalu jauh sih berjalan kaki dari pelabuhan ke homestay, maybe someday i’ll come again and walk !

Homestay yang kami tempati lumayan bersih, Rp. 75.000,- per malam/kamar diisi berdua (bertiga pun bisa kalau mau lebih irit), jadi hitungan saya Rp. 37.500,- per orang/malam. Di Karimunjawa listrik hanya ada saat sore sampai pagi jam 6 am, jadi disarankan bawa power bank dan colokan extra, supaya siangnya tidak kehabisan battery.

Di homestay saya sempat makan siang bekal nasi bakar dari Semarang yang kami beli sebelum berangkat ke pelabuhan, ditambah lauk yang dibeli dari warung sekitar. Menu sederhana jadi terasa enak kalau dalam kondisi lapar dan kepepet seperti saat itu. Apalagi saya memang harus memaksakan diri untuk makan sebelum menelan beberapa pil dan kapsul “titipan” dokter spesialis.

Selesai makan kami kumpul di pelabuhan (yang lain) tempat kapal-kapal kecil berlabuh. Acara sore itu tidak terlalu jelas, katanya mau lihat sunset ke Tanjung Gelam pada akhirnya batal, dan hanya pecinta snorkeling saja yang enjoy nyemplung di laut, kesal juga tidak merapat ke salah satu pulau, padahal di Karimunjawa banyak sekali pulau yang wajib dikunjungi.

Sebelum sunset kamipun kembali ke pulau utama Karimunjawa, tidak terkejar menikmati sunset sore itu, kecewa sih iya  tapi ya sudahlah namanya juga rame-rame tidak bisa egois menuruti keinginan sendiri, but one day pasti saya balas dendam balik lagi kesini.

Malam hari di Karimunjawa, keramaiannya ada di alun-alun Karimunjawa. Berbagai jualan makanan menu sea food, jagung bakar, roti bakar, mie ayam, bakso (bakso ikan kuah mirip mie instan tidak recommend deh). Bisa dibilang hampir semua pelancong Karimunjawa makan malam dan nongkrong di alun-alun. Harga sea food asal makannya keroyokan bisa dibilang murah. Malam itu kami bertujuh masing-masing mengeluarkan uang Rp. 30.000,- itupun sudah sangat kenyang dengan menu cumi crispy, cumi bakar, cumi saus tiram, udang kipas, dan ikan bakar (ukurannya cukup besar) plus nasi dan minuman.
Kembali ke homestay saya langsung terbaring di kasur, akibat sakit kepala yang tak tertahankan dan mungkin pengaruh obat, padahal teman-teman lain masih berkumpul main kartu di teras homestay.

Saya bangun cukup pagi, jam 4 am. Teman saya sekamar masih terlelap dengan sedikit paksaan saya membangunkannya sesaat setelah adzan subuh. Sayangnya tidak ada acara menikmati sunset pagi itu. Jam 5 pagi lewat sedikit saya dan teman sekamar mencoba berjalan ke pelabuhan. Karena sayangnya dengan urusan listrik kami memutuskan untuk tidak membawa HP, dan berujung penyesalan melihat betapa indahnya pemandangan pagi di pelabuhan terlewatkan untuk diambil gambarnya.

Jam 7 pagi semua berkumpul, persiapan untuk melaut. Sebenarnya sih saya ingin memisahkan diri karena saya lebih suka wisata alam dibanding dengan nyemplung ke laut, sayangnya tidak diperbolehkan, dan dijanjikan akan menikmati pemandangan cantiknya sunset hari itu. Dengan setengah hati saya pun ikut melaut, menunggu beberapa saat karena kapal tidak merapat ke pulau tengah. I wished kapal merapat, yang mau main di pulau bisa, yang mau nyemplung bisa juga, at least win win solution, berasa rugi share cost kalau begini.
Walaupun akhirnya kapal merapat juga di pulau yang terdekat itu, pulau tengah. Awak kapal menyiapkan makan siang, sementara lainnya acara bebas keliling pulau. Ternyata pulaunya tidak terlalu besar, biarpun begitu pemandangannya cukup cantik dengan pasir putih dan view beberapa pulau di sekelilingnya bisa dilihat dari pulau Tengah.
Lumayan lama kami berlabuh disitu sambil menunggu makan siang yang tak kunjung siap.

Setelah beberapa lama menu ikan bakar dan 2 macam sambal akhirnya tersaji. Sambalnya berupa sambal terasi dan sambal kecap dengan tomat. Rasa sambalnya mantap, biarpun dibuat di alam terbuka ga kalah dengan sambal bikinan chef ternama.
Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan hidangan yang ada. Selain rasa lapar, masakanan yang tersaji juga delicioso jadinya klop.

Selesai makan, persiapan untuk melaut lagi, pindah ke tempat lain. Sebelumnya acara photo bareng, dan ternyata ajang photo “disalahgunakan” untuk mengerjai salah seorang teman yang sedang berulang tahun. Telur dan tepung akhirnya jadi senjata pesta “ngebully” sang korban.
Setelah korban membersihkan diri, kapal kembali melaut menuju ke pulau selanjutnya untuk merapat ke Pulau Kecil. Yang hobby main air bisa nyemplung ke air, dan yang ingin berburu pemandangan alam bisa berjalan-jalan di pulau.
Masih dengan pasir putih, Pulau Kecil tak jauh beda dengan Pulau Tengah. Karena waktu yang sempit, kami tak berlama-lama di Pulau Kecil karena harus segera menuju ke penangkaran hiu dan rencana untuk melihat sunset.


Perjalanan menuju penangkaran hiu cukup tak nyaman, dan saat inilah kulit mulai terbakar yang efeknya memburuk hingga sekarang. Sunblock SPF 30 sepertinya tak ada efeknya karena saya duduk di belakang tepat di mana matahari bisa menyerang dengan garang. Yang paling parah adalah kedua punggung tangan yang kini walaupun sudah tidak merah tapi jadi gelap dan keriput.
Sampai di penangkaran hiu, harus membayar Rp. 25.000,- baik yang nyemplung bermain bersama hiu maupun yang hanya mendarat dan masuk ke area situ saja.

Sunset pun tak terkejar karena di penangkaran hiu langitpun mulai gelap, dalam hati kecewa juga sih, ini sore terakhir yang terjadwal, just make a wish… a miracle…extend 1 more day, karena di jadwal besoknya kapal kami akan berangkat sekitar jam 12 an siang.
Untuk sewa kapal dan peralatan snorkeling selama 1.5 hari beserta menu makan siang bakar-bakaran saya harus membayar Rp. 232.000,-

Kembali ke pulau besar Karimunjawa, acara makan malam tak beda dengan kemarin, nothing special.
Malam terakhir (sesuai jadwal) kami membereskan segala sesuatunya agar besok lebih mudah, karena kami masih ada jadwal pagi hari untuk berburu sunrise di Nirwana Resort.


Pagi jam 4.30 kami berangkat bagaikan tukang sayur yang berangkat untuk berjualan ke pasar (patungan mobil ini rata-rata Rp.10.000,-) menuju ke Nirwana Resort. Melalui jalan darat yang tidak terlalu jauh, kami mencapa Nirwana Resort tepat waktu, untuk menunggu sunrise.
Pantainya cantik pemandangannya, apalagi ketika sunrise, warnanya cantik berbaur dengan warna langit dan juga laut. Beneran deh memang harus sering-sering lihat pemandangan yang begini biar bisa lebih mensyukuri apa-apa yang DIA ciptakan untuk kita.
Selesai urusan sunrise kami kembali langsung ke warung makan Bu Ester untuk sarapan (rata-rata Rp.10.000,- sudah kenyang) dekat pelabuhan. Jadwal berikutnya ke Mangrove sebelum kami bersiap untuk pulang.

Mangrove ini berada di pulau besar Karimunjawa, ada banyak jenis pohon di dalamnya sayangnya saya tidak menghafal apa saja jenis pohon yang ditanam, tapi jangan khawatir di situ ada keterangan di setiap area pohon apa saja yang ditanam. Di pinggir hutan Mangrove ini ada sisi yang berupa pantai lho, walaupun panas menyengat tapi tidak mengurangi kekaguman kami akan cantiknya pemandangan disini.

Perjalanan pulang ke homestay kami mampir ke bukit Love, dimana kami bisa melihat pemandangan laut yang luar biasa indahnya sampai-sampai teriknya mataharipun tak dirasa. Puas mengambil gambar kami bergegas kembali ke homestay untuk bersiap pulang.



Pulang ! itu yang ada di pikiran kami semua, maklum mayoritas dari kami semua pekerja kantoran yang sulit mendapatkan cuti tambahan. Saya dan sebagian teman sudah berada di pelabuhan terlebih dahulu hingga detik-detik terakhir kapal akan berangkat, belum tampak rombongan yang sebagian lain, dan ironisnya yang membawa tiket berada di rombongan terakhir.
Hore deh extand 1 day…saya sih senang toh tidak harus ijin cuti tapi kasian juga yang tiket pesawatnya hangus, tiket keretanya hangus, masih ditambah urusan dengan boss masing-masing, bersyukur..i’m independent !

Akhirnya kepala rombongan memutuskan (sendiri) menyewa villa. Saya pikir sih dibayarin nih, karena sumpah saya mendingan pilih homestay lebih lega dan nyenyak tidurnya, walaupun memang villa ini bagus tapi kenyamanan tidur berdesakan tentunya berbeda. Kami harus membayar Rp. 52.000,- (villa + makan malam/walaupun saya tidak makan)

4 Orang dari kami memutuskan untuk menyewa motor dan tour sendiri jalan darat. Kami belum ke Tanjung Gelam dan Bukit Joko Tuwo.
Akhirnya saya, dan 3 teman pun memisahkan diri dari rombongan, bermotor ria menyusuri jalanan berdebunya Karimunjawa.
Tujuan pertama Tanjung Gelam.
Pernah saya baca tagline tak akan muram di Tanjung Gelam, itu mungkin benar. Saya cukup terkesima dengan keindahan Tanjung Gelam. Tempat ini bisa dicapai melalui laut dengan kapal maupun darat.
Pasirnya putih sama dengan yang lain, tapi bentuk tempatnya sungguh berbeda dengan pulau-pulau yang kemarin kami kunjungi. Tanjung Gelam ini eksotis. Tempatnya cocok untuk menunggu sunset, sayangnya kemarin kami memilih untuk sunset di Bukit Joko Tuwo, maybe someday…

Perjalanan lanjut ke Bukit Joko Tuwo yang ternyata tidak jauh dari villa tempat kami menginap.
Naik ke bukit Joko Tuwo dari tempat kami memarkir motor cukup lumayan, 500 meter dengan jalan menanjak, untung saja kami membawa bekal minuman 4 botol.
Meski terengah-engah dan sesekali istirahat sambil photo akhirnya kamipun sampai di puncak bukit Joko Tuwo.
Capek pun terbayar melihat betapa indahnya pemandangan Karimunjawa dari puncak bukit Joko Tuwo. Kami menunggu sampai sunset.
Jelang malam kamipun bergegas turun sebelum jalanan mulai gelap, karena penerangan sama sekali tidak ada di area tersebut.
Istirahat sebisanya, hanya itu yang dilakukan setelah kembali ke villa, sambil menunggu pagi.

Pagi, kamipun bersiap karena kapal yang akan mengangkut kami selama 5 jam perjalanan ke Jepara akan berangkat pagi-pagi sekali, dan harus tidak ada acara ketinggalan kapal lagi.
Tiket kapal kali ini Rp. 94.000,- lumayan dapat ruangan ber AC lagi tetapi beda dengan waktu berangkat, kami tidak terlalu merasakan goncangan ombak bisa dibilang cukup nyaman untuk perjalanan yang lebih lama (5 jam).
1 jam terakhir sebelum kapal berlabuh saya menghabiskan waktu berada di deck kapal untuk menikmati angin laut yang lumayan segar, walaupun matahari tetap semangat dalam usaha menggosongkan kulit.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts