Dieng | Negeri Para Dewa

22:12


Pegunungan Dieng, kembali saya keluyuran lagi setelah 2 bulan absen. Sebenarnya saya ingin sekali pergi ke Dieng saat Culture Festival beberapa bulan yang lalu. Tetapi urung karena beberapa hal yang harus diselesaikan saat itu.

Kali ini bertepatan dengan liburan tahun baru Hijriyah. Mungkin tidak ada ritual mencukur rambut gimbal seperti saat festival tetapi saya berpikir mungkin ada hal-hal lain karena bertepatan dengan tahun barunya orang Jawa juga 1 Muharram.

Berangkatlah saya ke Wonosobo menggunakan travel Sumber Alam jam 8 pagi. Perjalanan 3.5 jam termasuk istirahat di rumah makan Temanggung selama 20 menit. Ongkos travel sebesar 45 ribu. Tidak terlalu mahal bagi yang menginginkan menyingkat waktu dan dari segi kenyamanan dibanding harus menggunakan bus umum.
Saat itu saya berangkat dengan 2 teman lain, jadi tidak terlalu bosan di perjalanan.

Sampai Wonosobo sekitar pukul 11.30, karena tidak sempat sarapan maka sebelum mencari bus ke arah Dieng kami putuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu.
Tidak banyak warung sekitar yang buka saat itu. Akhirnya kami menemukan warung bakso yang lumayan ramai bergelar bakso Soponyono.
Soponyono juga rasanya ternyata tidak karuwan walau banyak sekali yang beli dan makan disitu. Tapi ya sudahlah demi mengganjal perut yang kosong.

Urusan perut beres, kami pun menunggu mini bus yang akan membawa kami dalam perjalanan mencapai Dieng. Tidak terlalu lama kami sudah dalam perjalanan ke Dieng, Wonosobo – Dieng Rp. 15.000,- ditempuh dalam waktu kira-kita 1 jam. Perjalanan yang cukup menyenangkan walaupun bus penuh sesak, kami masih bisa menikmati pemandangan alam yang cantik sepanjang jalan yang kami lewati.

Sampailah di Dieng, kami turun tepat di depan homestay yang telah dipesan sebelumnya, homestay Bu Djono. Disini lumayan mau akses kemana-mana dekat, dan pastinya makanan paling enak ya di rumah makan Bu Djono. Harga sewa per kamar standar Rp. 75.000,- per malam (shared bedua jadi murce marice)

Setelah istirahat sebentar dan berganti sandal japit andalan kami menuju telaga warna dengan berjalan kaki karena ya lumayan lah tidak terlalu jauh. Hanya bertiga karena rombongan Yogya dan Magelang belum datang, masih dalam perjalanan.

Telaga warna sore kemarin warnanya dominan biru, dengan pemandangan sekitarnya yang cukup cantik. Aslinya telaga ini berwarna-warni, kadang hijau dengan sedikit warna kuning. Telaga ini mengandung sulfur yang cukup tinggi, hingga warna warni pelangi itu tercipta karena efek sinar matahari yang menimpa telaga.

Karena kami pergi ke telaga warna Dieng sudah cukup sore maka tidak sempat explore lebih jauh. Kami memutuskan untuk berjalan pulang ke Penginapan karena sudah jelang Maghrib.

Sampai penginapan tempat teman-teman lain (kami pisah penginapan), ternyata sudah ada yang datang dari Magelang. Setelah berkenalan, kamipun jalan bareng untuk mencari makan malam. Walaupun ternyata akhirnya berpisah karena masing-masing menginginkan makanan yang berbeda. Tapi sebagai saran mendingan tidak kemana-mana cukup makan di Bu Djono saja, setidaknya makanannya masih mending rasanya.

Usai makan kembali ke penginapan, saya mencoba untuk tidur sebentar karena memang sehari sebelumnya saya sama sekali belum tidur karena satu dan lain hal. Teman saya sekamar berada di bawah (ruangan makan Bu Djono) selama saya tidur sekitar 2 jam. Terbangun gara-gara tetangga kamar yang mayoritas para pria berisik bersliweran dan pintu kamar ternyata agak terbuka sedikit. Dengan sedikit memaksa saya menyuruh teman saya untuk kembali ke kamar karena saya butuh ke kamar mandi dan pintu tidak bisa ditutup tanpa digembok.

Akhirnya kami menghabiskan malam itu dengan tidak tidur, terutama saya yang sebenarnya butuh tidur kembali tidak bisa tidur karena begitu dinginnya malam itu di kawasan Dieng. Tiba-tiba teman saya minta diantar minta air panas untuk minum karena udaranya benar-benar membuat beku badan. Tapi ternyata, di bawah telah menunggu teman-teman lain yang baru saya liat pada saat itu juga. Surprised birthday, ya saat itu pergantian hari 00.03 hari ulang tahun saya. Aduh terharu rasanya, teman-teman yang baru dikenal tapi begitu perhatian. Tetapi tidak lama juga karena penginepan mereka harus tutup tengah malam, tidak buka 24 jam. Akhirnya kami kembali ke kamar masing-masing. Sampai nanti kami akan berkumpul lagi jam 3 pagi untuk persiapan naik ke bukit Sikunir untuk menikmati sunrise.



Sikunir ! perjalanan ke bukit Sikunir memakan waktu hampir 30 menit menggunakan mobil sewaan. Kami menyewa mobil Rp. 450.000,- untuk acara 1 hari muter-muter ke beberapa lokasi nantinya.
Dari parkiran Sikunir kami harus berjalan sekitar 30 menit. Seharusnya tidak terlalu sulit jika saat itu tidak banyak pengunjung. Maklum long weekend, pengunjungnya tampak ribuan yang mendaki ke Sikunir. Perjalanan cukup lama karena ada antrian mendaki, sungguh melelahkan dan menyebalkan menunggu di area jalan yang mendaki curam.


Akhirnya sampai juga di Sikunir, dengan hasil tidak dapat spot yang memuaskan untuk mengambil photo sunrise. Akhirnya ya seadanya saja dinikmati pemandangan yang ada. Bersyukur setidaknya bisa menghirup udara sejuk yang bersih jauh dari polusi dan pemandangan yang cukup mempesona.

Turun dari Sikunir kami pindah ke area Telaga Warna, sebelumnya kami menikmati hangatnya soto di area parkir Telaga Warna sebagai menu sarapan pagi itu. Cukuplah lumayan sebagai pengganjal perut lapar dan penghangat badan.


Masuk ke kawasan telaga warna kami harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 7500,- Siang itu berbeda dengan kemarin sore, warna telaga jauh lebih memikat dengan dominasi warna hijau dan harmonisasi pegunungan serta alam di sekitarnya sungguh mempesona.
Di sekitar telaga warna Dieng terdapat beberapa gua yang wajib dikunjungi, Gua Semar, Gua Sumur, Gua jaran, dan Batu Tulis. Tempat-tempat ini sering digunakan orang untuk bermeditasi.

Dari Telaga Warna kami pindah ke lokasi Kawah Sikidang, bayar Rp. 10.000,- untuk tiket terusan kawah Sikidang dan kawasan candi Arjuna. Kawah Sikidang merupakan salah satu kawah di Dieng yang sering dikunjungi wisatawan. Di area kawah tersebut kami disarankan untuk mengenakan masker karena bau belerang yang cukup menyengat. Kalau yang tidak bawa masker dari rumah, disana banyak penjual masker.
Di area kawah Sikidang dapat ditemui juga seperti pasar kecil yang menjual berbagai macam keperluan oleh-oleh. Dari kentang merah, belerang, sampai carica. Harganya juga bisa ditawar, jadi cukup terjangkau bagi yang menginginkan untuk belanja oleh-oleh.

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah kawasan candi Arjuna. Tidak banyak yang bisa dilakukan karena padatnya wisatawan yang berkunjung hari itu. Tetapi kami sempat mengambil gambar dengan teletubbies yang ada di kawasan candi Arjuna. Tidak berlama-lama berada di kawasan tersebut kami pun bergegas kembali ke penginapan untuk bersiap pulang.

Jam 1.00 pm kami bersama naik mini bus untuk kembali ke Wonosobo. Saya ikut travel ke Semarang jam 3.00 pm, sedangkan lainnya ikut yang jam 5.00 pm bersamaan dengan rombongan yang menuju ke Yogya. Kamipun berpisah disitu, tetapi pertemanan kami masih terus berlanjut hingga saat ini.


You Might Also Like

0 comments

Popular Posts