Wisata Karanganyar | Keindahan Magis Sang Lawu

20:03


Mendadak keluyuran lagi. Tanpa rencana hanya karena butuh rehat sejenak dari rutinitas harian. Pergi lah saya ke Solo bersama 2 orang teman menggunakan kereta ekonomi yang hanya dibandrol 10 ribu per orang saja.

Cuaca mendung, saya berharap hujan tidak akan merusak rencana untuk keluyuran di sekitar Solo. Kereta berjalan cepat, dan hanya 2 jam saja saya sudah memasuki stasiun Solo.
Jemputan kami pun sudah berada di sekitar area stasiun.

Gerimis mulai menyambut ketika kami keluar dari stasiun menuju tempat parkir motor. Berharap cemas semoga hujan tidak semakin deras.
Sayangnya harapan tinggal harapan saja, hujan selalu tidak mau kompromi. Hari itu kami hanya keluyuran sekitar Solo saja, diakhiri dengan makan malam nasi Liwet yang gurih lanjut dengan karaoke di Inul Vizta.
Walaupun kali ini saya tidak ikut menyanyi, sibuk dengan smartphone demi ngomset gajian besok pagi, lumayan untuk tambahan dana keluyuran.
Mudah saja sih kegiatan ngomset saya, setiap waktu keluyuran pun masih bisa dilakukan.
Alhamdulillah dana untuk keluyuran dan shopping lancar.

Pagi menjelang.
Semalam kami sudah memutuskan akan pergi ke Karanganyar. Cuaca tampak cerah, semoga akan tetap seperti itu hingga kami kembali nanti.

Sebelum meluncur ke Karanganyar kami mampir ke rumah makan yang cukup ramai (sayang saya lupa namanya). Menu utamanya Timlo Solo, tetapi selain itu juga menyediakan berbagai macam menu seperti rawon, pecel, dan sebagainya. Juga banyak tersedia jajanan, gorengan yang memang kalau diberi nilai secara keseluruhan excellent.

Meluncur ke Karanganyar. Destinasi pertama kami adalah Candi Cetho.
Candi Cetho berada di lereng gunung Lawu kabupaten Karanganyar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan candi Hindu, di masa akhir kerajaan Majapahit dan dimulainya peradaban Islam di tanah Jawa. 
Candi Cetho ini masih aktif digunakan oleh masyarakat Hindu sekitar Karanganyar. Konon menurut info ketika hari raya Nyepi pun kampung di sekitar candi juga melakukan ritual seperti layaknya umat Hindu di pulau Bali, jadi no light, no gadget ? oh no ! Sebaiknya hindari datang kesini saat Nyepi.

Memasuki area Candi Cetho kami harus mengenakan ikat kain yang disediakan di loket. Ini mengingatkan saya ketika mengunjungi Pura di Bali.
Menaiki anak tangga pintu masuk suasana mendung, hawa dingin rasanya seperti berada di jaman yang berbeda. Untungnya banyak pengunjung hingga bisa menetralisir suasana yang aneh disana.

Candi Cetho merupakan Candi Siwa, banyak bangunan dengan patung-patung simbol Siwa, termasuk patung bentuk kelamin pria (ini adalah simbol Siwa). Rata-rata hampir sama Candi Hindu di Jawa yang saya pernah kunjungi selalu ada simbol linggam yoni, jadi bukan Candi porno lho.

Setelah berkeliling di sekitar Candi Cetho, kami bergerak menuju area lain yang masih merupakan komplek pemujaan agama Hindu.
Berjalan melalui
jalan setapak yang terletak di bagian kiri Candi, mungkin lumayan melelahkan karena jalannya sedikit menanjak, maklum pegunungan. Tetapi rasa lelah pastinya terobati setelah melihat hijaunya alam sekitar, dan sampailan di Taman Puri Saraswati.

Tidak banyak yang mengetahui keberadaan Puri Saraswati ini.
Sebelum memasuki kawasan Puri Saraswati, kami harus melepas alas kaki, dan bagi wanita yang sedang "berhalangan" tidak diperkenankan untuk memasuki area ini. Area Puri Saraswati merupakan tempat ibadah umat Hindu, jadi bisa dimaklumi dengan beberapa aturan yang ada.

Setelah masuk dalam area Puri Saraswati, ada yang namanya Sendang Pundi Sari  berada di bagian sisi kanan patung raksasa Dewi Saraswati.
Saya sempat berwudlu di situ, membasuh tangan, kaki dan wajah, bahkan mencoba sedikit segarnya air sendang untuk diminum.


Sendang Pundi Sari

Beberapa pengunjung saya lihat melempar koin sambil meminta doa dan berkat. Konon supaya apa yang diinginkan terkabul.

Dewi Saraswati merupakan dewi ilmu pengetahuan dalam kepercayaan Hindu. Seperti dewa dewi yang lain, Dewi Saraswati ini juga memiliki empat tangan yang masing-masing memegang instrumen, dan berdiri di atas bunga teratai.

Tak mau berlama-lama kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke atas. Masih ada Candi Kethek yang jalannya lebih mendaki dan berliku.
Menuju Candi Kethek jalan setapak dipinggir jurang dengan pemandangan cantik dan segarnya hawa pegunungan mengurangi rasa lelah. Melalui sungai kecil yang saat itu surut airnya akhirnya sampailah di Candi Kethek. Posisi Candi ini berada di puncak bukit Gumeng.
Untuk mencapai Candi, kami harus mendaki anak tangga yang lumayan juga membuat terengah-engah.
Hawa mistis di area Candi Kethek sungguh terasa kuat, berbeda dengan Candi Cetho maupun Puri Saraswati.
Dilihat dari adanya sesaji di sekitar candi, menandakan candi ini masih aktif digunakan juga seperti Candi Cetho.

Hanya beberapa pendaki gunung saja yang kami temui disitu.
Candi Kethek merupakan salah satu jalur pendakian ke puncak Lawu dengan pemandangan terindah, tetapi dengan tingkat kesulitan yang lumayan, dan jalur perjalanan yang lebih panjang dibandingkan dengan jalur pendakian Lawu yang lain.

Candi Kethek
Sepinya pengunjung Candi Kethek menambah suasana magis makin terasa.
Entah takut hawa mistis atau khawatir hujan segera turun, teman-teman mengajak saya untuk bergegas segera turun kembali ke parkiran, walaupun rasa penasaran saya belum terpuaskan.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts