Agra Fort | Kisah Cinta Di Balik Tembok Megah

03:12



Yamuna Express Way, jalan yang menghubungkan Delhi - Agra cukup lengang. Hari masih pagi, setelah lebih dari 20 jam dalam perjalanan Manali - Delhi, menikmati indahnya sunrise dalam perjalanan sedikit mengobati rasa lelah kami.
Di Indonesia jarang sekali saya mendapatkan spot sunrise dalam perjalanan. India negeri yang dikatakan menyeramkan dan tak ramah oleh banyak orang, memiliki sisi alam yang eksotis ( seperti pria India ? halah ! )

Setelah lebih dari dua jam menyusuri Yamuna Express Way, kami mulai memasuki kota Agra. Kota dimana bangunan simbol cinta abadi berada. Penasaran juga dengan Agra, gara-gara tiap hari nonton serial Jodha Akbar. Agra diceritakan sebagai pusat pemerintahan Kaisar Akbar yang termahsyur. Kabarnya kekuasaan dan kekayaan kekaisaran Mughal saat itu merupakan salah satu kekaisaran terkaya di dunia.

Agra, suguhan kota yang kotor dan kumuh mengejutkan saya. Tampaknya pemerintah India tidak begitu peduli dengan kondisi kota yang pernah menjadi pusat peradaban Islam di India
Mungkin, jika UNESCO tidak mengambil bangunan-bangunan bersejarah ini sebagai cagar budaya kondisi akan lebih parah. Saya mendengar banyak issue tentang hubungan masyarakat muslim dan hindu di India, karena sejarah masa lampau.

Setelah beristirahat sejenak di hotel yang posisinya tak nyaman (gara-gara mengikuti makelar hotel yang kami temukan di jalan saat mencari penginapan).
Untuk masalah hotel Indonesia masih lebih unggul ( harga dan fasilitas), tapi di India masih memungkinkan untuk menawar harga sewa hingga bisa mendapatkan harga lumayan murah.

Cuaca Agra yang super panas dengan sinar matahari yang garang tiba-tiba meredup berganti dengan awan tebal menggulung birunya langit. Saat ini adalah musim panas di India. Musim panas yang terkenal benar-benar garang, saya pun sudah pernah merasakannya di Delhi tahun lalu.
Tetapi awan kelabu tebal layaknya mau turun hujan ? Kondisi yang sangat jarang terjadi di musim panas.
Bergegas kami masuk ke dalam mobil karena waktu sudah sore, bisa dibilang terlambat untuk bisa mengunjungi dua tempat bersejarah di Agra. Terlalu lelah dengan perjalanan Manali - Agra hingga kami beristirahat cukup lama di dalam kamar hotel. Pukul empat sore baru kami kembali duduk dalam mobil untuk menuju bangunan peninggalan kekaisaran Mughal.

Belum juga lima menit kami meninggalkan hotel, kami disuguhi pemandangan gulungan debu dan sampah di udara. Angin menderu-deru, cukup mengkhawatirkan bagi saya yang jarang menemui hal seperti ini langsung di hadapan.
Badai ! Istimewanya India, sebentar cerah panas menyengat, tiba-tiba berubah badai mencekam. Teringat kembali ketika terjebak badai es di Rohtang kemarin, begini juga kondisinya.

Lokasi yang kami tuju tak terlalu jauh dari hotel. Angin masih berhembus kencang menerbangkan debu-debu menyelimuti kota Agra.
Sampai tempat parkir angin mulai mereda, walaupun udara sekitar masih penuh debu hingga saya harus menutup sebagian wajah dengan pashmina yang saya kenakan.

Agra Fort, dengan tiket masuk foreigner sebesar Rs 300 (sekitar 60 ribu rupiah) saya pun akhirnya masuk ke area benteng merah yang megah.
Benteng merah inilah yang diceritakan sebagai tempat tinggal Kaisar Akbar dan keluarganya di serial Jodha Akbar.
Menurut cerita Prince of Gujarat yang piawai dalam hal sejarah, Agra memainkan peran penting dan menjadi pusat aktifitas kekaisaran Mughal sejak Kaisar Babur (Kakek Akbar) memenangkan perang Panipat di abad 15.
Kemudian setelah kondisi yang kacau akibat peperangan, Kaisar Akbar kembali membangun benteng yang sekaligus menjadi istana dan pusat pemerintahan Mughal di Agra.

Dibangun dengan batu merah, mirip dengan Red Fort Delhi. masih kokoh berdiri meskipun sudah ribuan tahun. Kemegahannya menunjukkan betapa hebatnya kekaisaran Mughal jaman dahulu. Saya jadi membandingkan dengan kondisi keraton Solo dan Yogyakarta, yang hingga kini masih digunakan dan dirawat tetapi...
Betapa Islam memiliki power yang sangat besar masa itu, walaupun di tengah lingkungan masyarakat Hindustan.

Tidak banyak yang bisa saya jelajahi kemarin. Karena hujan turun menghambat aktifitas kami. Kami banyak berteduh disamping waktu yang sempit (terlalu sore berkunjung ke sini).
Banyak bangunan penting yang dibangun oleh Kaisar Akbar, Jahangir, hingga Shah Jahan. Tiga generasi yang menorehkan sejarah kejayaan kekaisaran Mughal. Sayang sekali tidak bisa saya jelajahi semua waktu itu.
Walaupun banyak pertanyaan dan rasa penasaran dalam benak saya, tentang bangunan-bangunan dan cerita keluarga kekaisaran yang sedikit saya mendapat gambaran dari serial Jodha Akbar, maupun dari penjelasan Prince of Gujarat.
Tak hanya bangunan yang megah, atau kejayaan saat itu, tetapi intrik kisah cinta yang abadi ( atau tragis ? ). Dari jaman Kaisar Akbar hingga Shah Jahan dengan Taj Mahal nya, banyak hal menarik dibalik indahnya istana dan monumen lambang cinta sejati.



Bangunan dari bagian-bagian istana tak kalah kokohnya dengan tembok benteng. Arsitektur sejak pemerintahan Kaisar Akbar selalu merupakan perpaduan dari berbagai seni, tidak hanya arsitektur Islam tapi juga memasukkan gaya Hindu. Betapa saat itu sudah ada toleransi dalam beragama, mengingat Istri dari Kaisar-kaisar Mughal juga ada yang dari kalangan Hindu.



Diwan i Am.
Hall yang digunakan sebagai tempat berkomunikasi antara masyarakat dan pejabat kekaisaran.
Di dekat Diwan i Am, berdiri Masjid Moti (Moti berarti mutiara), masjid ini dibangun saat pemerintahan Kaisar Shah Jahan, dengan batu merah dan tentunya marmer putih ciri khas arsitektur bangunan ala Shah Jahan. Uniknya kubah Masjid Moti ini menggunakan desain kubah ala arsitektur Hindu. 
Walaupun Shah jahan dikenal memegang kuat ajaran Islam lebih dari ayah dan kakeknya, tetapi beliau masih memiliki toleransi yang bagus, begitu juga dengan kecintaannya terhadap seni.

Dari Diwan i Am ada jalan menuju ke halaman luas, dimana terdapat Masjid Nagina yang tidak terlalu besar, dibangun oleh Shah Jahan untuk para wanita dalam lingkup istana. 
Agak jauh di sisi lain berdiri Diwan i Khas yang disediakan untuk pejabat penting atau utusan negara lain. Aula ini bersifat pribadi, disinilah tempat Singgasana Merak berada. Singgasana tempat duduk Shah Jahan yang terkenal mewah karena dihiasi dengan batu-batu mulia hingga berlian. 

sisi penampakan ke arah Taj Mahal
Sheesh Mahal yang merupakan istana kaca, konon tempat berganti pakaian kaisar. Di sisi lain ada bangunan yang menarik, merupakan tempat Shah Jahan menghabiskan waktu di hari-hari terakhirnya. Bangunan istana dengan menara yang menghadap langsung ke Taj Mahal. Dimana jasad istri kesayangannya terbaring, Taj Mahal.

Banyak kisah menarik yang bisa dikuak dari bangunan-bangunan bersejarah ini. Sayang hujan tak kunjung reda, kamipun memaksa untuk berlari kembali ke area parkir sebelum area Agra Fort ini tutup.


You Might Also Like

0 comments

Popular Posts