Cinta Bersemi di Himalaya | From Manali With Love

23:04


Perjalanan Delhi - Shimla - Manali selama dua hari. Kami memaksa bermalam di Shimla karena lelah perjalanan Indonesia - Delhi dan kondisi fisik yang kurang tidur selama beberapa hari.  Ternyata mereka pun dari Gujarat menempuh waktu hampir 24 jam mengendarai mobil untuk mencapai Delhi, jadi cukup kuat alasan saya untuk mematahkan kekerasan hati Prince of Gujarat ini, yang mau terus menyetir mobil hingga Manali (padahal jarak sangat jauh).

Manali, saya memimpikan untuk menginjak daerah ini sebelum kenal dengannya. Dari gambar yang saya lihat di Google tentang Himalaya dan sekitarnya, salju dan alamnya yang sungguh cantik. Himalaya I'm in love !

Pertama kenal dengannya, kami membahas tentang Himalaya, hingga candaan tentang Mahadev dan Parvati versi asli berakhir dengan janji untuk trip bareng ke Himalaya (yang ini saya anggap hanya sebagai angin lalu)
Siapa sangka janji itu terpenuhi ?

Sekarang di sinilah saya, di Manali bersama dia, temannya dan sahabat.
Seperti mimpi, mendapat tempat menginap yang sempurna. Cottage dengan balkon yang menghadap langsung ke Himalaya dengan selimut saljunya, dan aliran sungai Beas yang bening juga hawa yang sejuk. Kicauan beraneka macam burung membuat sempurna great mood ! Seandainya saya bisa melakukan pekerjaan online saya di tempat seperti ini...

Pagi pertama di Manali, kami masih makan roti dan bekal kami yang lainnya. Tidak hanya untuk menghemat, tapi saya sangat mengetahui bagaimana citarasa makanan India yang rata-rata vegetarian food.
Waktu kami habiskan untuk menikmati pemandangan dari cottage hingga siang menjelang.
Jadwal kami siang ini setelah makan siang, kami akan mengunjungi pasar untuk membeli jaket tebal persiapan ke Rohtang dan menyewa motor untuk esok hari. Lebih baik menggunakan motor daripada mobil karena pasti jalanan macet. Bulan Mei merupakan musim liburan di India.

Pasar Manali, setelah makan siang dengan chicken tandoori yang ajaib porsi dan harganya, kami menelusuri setiap jalan di pasar Manali. Karena Himalaya dekat dengan Tibet, maka banyak atau bisa dibilang mayoritas pedagang di pasar Manali merupakan Tibetian (orang Tibet). Berbagai macam jaket dan sweater dari bahan wool beraneka warna sungguh menarik. Begitu juga dengan pashmina asli yang terbuat dari bulu Yak (binatang khas Himalaya), hingga shawl warna warni berbagai motif yang cantik serasa ingin memiliki semuanya.
Tapi ingat tujuan kami untuk membeli jaket tebal yang berbahan luar anti air jadi saya melupakan sejenak barang-barang cantik yang bagai melambai-lambai ke arah saya meminta untuk dibeli.

Belum juga mendapat jaket dan memesan motor, saya terseret masuk ke kios pashmina. Protes dengan ini sayapun mendapat "perintah" cukup duduk dan pilih. Orang yang satu ini memang keras kepala dan sulit dibantah.

Memang sungguh cantik warna dan motif pashmina Kullu, tapi tunggu dulu, ini pashmina asli yang tebal. Berfungsi untuk menghangatkan badan, nah matahari di Indonesia sungguh teramat membakar mataharinya. Untuk apa saya memiliki dan harganya pun aduhai untuk budget tukang keluyuran dadakan seperti saya. Satu lembar pashmina asli (tidak di mix dengan bahan lain) harganya paling murah hampir mencapai setengah juta rupiah, itupun pasti harus menawar dengan gigih.
Empat lembar pashmina, tiga lembar untuk saya dan selembar untuk sahabat saya akhirnya dibayar oleh dia. Saya hanya bisa meringis dan merasa tak enak, maklum saya terkenal dengan miss independent yang bisa dibilang jarang menerima laki-laki membayar sesuatu untuk saya.

Jaket tebal pun lagi-lagi didapatkan dengan gratis. Manis juga orang satu ini, mengingat dia sebelumnya saya anggap cukup menyebalkan. Tak jarang kami beradu argument hingga kami sepakat bahwa kami adalah perfect enemy bagi masing-masing. Ternyata belum ada sebelumnya yang berani  mengajak ribut dia.



Sore sebelum kembali ke cottage, indah dan derasnya sungai Beas menjadi incaran kami. Bermain sebentar dengan aliran sungai Beas di area camp Tibetian, tampak beberapa biksu Buddha Tibetian tinggal disana. Sederet kain warna warni tergantung rapi, pada kain tersebut tampak tulisan dan gambar yang saya tidak paham, tapi untung ada yang menjelaskan bahwa itu adalah merupakan doa atau "wish" dari para Tibetian yang ada disitu, berharap hembusan angin akan membawa spirit doa yang tertulis pada kain menuju ke langit.

Di seberang saya melihat sebuah rumah dominan kayu berwarna coklat kemerahan, tidak terlalu besar tapi tampak manis. Seandainya saja saya bisa memilikinya, hingga tiap hari saya bisa menikmati alam cantiknya Manali. Tapi, bukannya saya orang Indonesia ya, bagaimana mungkin saya tinggal disini.


You Might Also Like

0 comments

Popular Posts