Lembah Marhi Rohtang | Menapak Karpet Salju Pegunungan Himalaya

00:47


Tidak pernah di benak saya merencanakan untuk keluyuran ke pegunungan Himalaya. Dalam pikiran yang ada naik gunung Himalaya yang terkenal itu susah ! Pegunungan yang memiliki puncak-puncak tertinggi di dunia seperti Everest, pastinya wow banget kalau bisa sampai disana.

Ternyata tidak perlu sampai di puncak Everest untuk bisa bersilaturahmi dengan Sang Himalaya. Pegunungan yang memanjang melewati 5 negara dan merupakan pembatas antara India dan Tibet ini ternyata cukup garang walaupun hanya bagian lembahnya saja. Lembah ini merupakan jalan tertinggi yang menghubungkan Himachal dengan Kashmir, Rohtang Pass.

Gugusan lembah Himalaya

Cuaca cerah, matahari lumayan menyengat berpadu dengan sejuknya udara Manali. Kami memutuskan meninggalkan mobil di cottage dan menyewa motor untuk perjalanan ke Rohtang. Perjalanan menyusuri jalan Manali ke Rohtang cukup lancar, walaupun sempat menemui area kemacetan setelah melewati pasar Manali. Memilih menggunakan motor sepertinya ide yang bagus, mengingat saat itu musim liburan.

Dari pemandangan pedesaan, cottage, hingga suguhan persewaan baju dan boots untuk bermain salju. Satu pertanyaan di benak saya saat itu, apakah saya membutuhkan baju salju melirik beberapa motor yang menuju Rohtang juga di sekitar saya, dengan pengendara para bule berpakaian ala musim panas, kaos kutang dan celana pendek.

Jalan mulai berliku menikung tajam dengan pemandangan pinus dan jurang-jurang. Berbeda dengan pegunungan yang pernah saya kunjungi di Indonesia, Himalaya teramat cantik namun garang !
Kilauan kristal salju mulai tampak di kanan kiri sepanjang jalan. Air terjun yang selama ini saya harus ke suatu tempat untuk bisa menikmati salah satu, kali ini benar-benar puas dengan pemandangan banyaknya air terjun di sepanjang jalan, semuanya cantik.
Satu sisi jurang menganga, kesan seram hilang ditepis keindahan eksotis yang tampak di seberang jurang.
Bongkahan kokoh tebing es  di kanan kami, juga aliran air akibat es yang meleleh.

Berhenti sejenak di area penjual jagung bakar sekedar melepas penat setelah bermotor ria sambil mengabadikan gambar lukisanNya melalui kamera.
Ternyata disitu ada persewaan kostum pakaian khas Manali. Tentu saya tidak melewatkan kesempatan langka bergaya ala wanita Manali.
Menunggu antrian sewa kostum sambil menikmati jagung bakar kami tertarik dengan adanya lemari es alami yang digunakan oleh pedagang minuman untuk mendinginkan minuman ringan yang mereka jual.
Bayangkan berapa banyak penghematan listrik jika kita bisa menggunakan lemari es alam ini.

Melanjutkan perjalanan menuju lembah Marhi, jalan lancar hingga sampai pada antrian panjang kendaraan yang akan ke Marhi juga. Beruntung kami tidak menggunakan mobil hingga masih bisa leluasa untuk terus berjalan meski tidak terlalu lancar. Setidaknya kami lebih beruntung dibanding para pengendara mobil yang harus menunggu lama.
Ketika berhenti sebentar karena macet saya sempat didatangi oleh beberapa penjual saffron. Baru kali ini saya melihat penampakannya, yang saya tahu dan dengar pertama kali tentang saffron ini, merupakan salah satu bahan baku Moment Slimmer. Ternyata tidak hanya untuk kesehatan pencernaan saja, tetapi dari info yang saya dapat ketika menunggu antrian macet, saffron ini bagus juga untuk kulit, sebagai antioksidan dan anti kanker.
Inilah yang membuat saya sangat suka keluyuran, mendapat ilmu dan pengalaman baru selain bisa melihat dan mengagumi tempat-tempat peninggalan peradaban manusia dan alam ciptaanNya.


Kulkas Alam

Marhi, merupakan desa terakhir sebelum Rohtang pass. Kami hanya bisa sampai di Marhi karena Rohtang ditutup setelah beberapa hari yang lalu terjadi badai salju.
Namun Marhi pun cukup membuat perasaan saya campur aduk.
Mimpi melihat salju sejak kecil pun terlaksana. Hamparan salju bagaikan karpet membentang di lembah pegunungan Himalaya.
Kami meneruskan perjalanan sedikit ke atas, tidak berbaur dengan para wisatawan yang bermain salju (ski, perosotan, jetski, bermain Yak,...)

Desa terakhir, kami menghentikan motor dan menjelajah ke area yang nampak beberapa bangunan disana. Sepi, tak ada satu orang pun yang muncul, hanya beberapa orang turis manca yang mengambil photo juga disitu.
Tak jauh dari kami memarkir motor ada satu warung teh. Di India teh lebih terkenal dibanding kopi. Kami pun duduk sejenak sambil memesan kopi susu dan beberapa biskuit.
Langit masih cerah, beberapa burung dan khususnya Elang terbang melintas. Saya merasa aneh melihat burung-burung itu hingga perasaan pun tak enak.
Saya memutuskan untuk mengajak mereka turun segera kembali ke Manali.

Tak lama kami meninggalkan desa Marhi, melintas area wisatawan yang masih ramai bermain salju, dan beberapa Yak pun masih nampak disana.
Kembali kami menemui kemacetan, langit yang cerah tiba-tiba menjadi gelap. Hujan gerimis turun, membuat saya makin cemas melihat langit pun penuh kilatan petir.
Gesitnya mengendara motor membuat kami cepat terbebas dari himpitan macet. Gerimis pun berhenti tapi kilatan petir masih saja tampak menerangi langit Himalaya.

Jagung bakar, kulkas alam pun terlewati, hanya segelintir orang yang tersisa tampak membereskan dagangannya. Motor melaju dengan cepat di jalan licin akibat hujan gerimis, beruntung Prince of Guarat ini sangat mahir mengendarai motor.
Separuh perjalanan terlewati, dan akhirnya hujan deras turun. Tapi tunggu, kenapa rasanya hujan sungguh sakit mengenai kulit tangan dan wajah saya. Mashaallah, ternyata hujan es ! Kali pertama saya merasakan hujan es.
Kami baru menyadari bahwa kami berada di jalan dan terjebak badai. Angin kencang dan hujan es yang menghantam bagian tubuh yang tak tertutup lumayan membuat kami shock.

Ketakutan ? sama sekali tidak. Bahkan kami tertawa kegirangan (sambil meringis) walaupun terasa perih dihantam butiran keras es.

Hampir dua kilometer kemudian kami menepi sesaat, menunggu badai reda sambil minum teh panas untuk menghangatkan badan yang terasa beku.
Tak sampai 30 menit, badai pun reda bahkan gerimis juga tiada lagi. Sungguh aneh cuaca di Himalaya, sesaat badai kemudian tiba-tiba cerah bagai tak pernah terjadi badai.

Himalaya yang penuh misteri, keindahan pegunungan yang eksotis membuat saya ketagihan ingin bersilaturahmi lagi dengan gugusan pegunungan ciptaanNya ini.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts