Champaner Pavagadh | Keindahan Masjid Gujarat Abad 15

21:07

Shahar Ki masjid

Ketika mayoritas masyarakat muslim dunia hanya mengenal peninggalan kerajaan Mughal India seperti Jama masjid Delhi, Taj Mahal, dan istana Mughal. Sebenarnya banyak sekali saksi bisu atas kejayaan Islam di tanah Hindustan, bahkan peninggalan masjid di India lebih banyak daripada Indonesia yang bertebaran peninggalan candi Hindu.
Gujarat yang ikut menorehkan sejarah penyebaran Islam di Indonesia, disini saya tinggal dan  berkesempatan untuk melihat sisa-sisa kejayaannya.
 
Champaner Pavagadh Hills, hanya sekitar satu jam perjalanan dari Vadodara atau dua jam waktu tempuh dari Ahmedabad.
Berawal dari penasaran oleh gambar-gambar yang dikirim mantan pacar, saat dulu sebelum menikah, akhirnya datang juga kesempatan untuk keluyuran lagi.

Champaner Pavagadh heritage area ternyata banyak peninggalan sejarah tidak hanya bagi kaum muslim tetapi juga tempat bersejarah dan tempat pemujaan bagi masyarakat Hindu.
Kalika Mata temple, yang merupakan kuil pemujaan bagi Dewi Kali (perwujudan lain dari Adi Shakti dalam kepercayaan Hindu) berdiri jauh sebelum adanya pengaruh Islam di Champaner. Kuil ini sangat ramai dikunjungi oleh pemuja Dewi Kali yang dikatakan sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Champaner, hingga akhirnya Sultan Mahmud Begada menaklukkan kawasan tersebut dan mendirikan benteng serta masjid-masjid pada abad 15, sebelum Mughal era sampai ke wilayah Gujarat. Kemegahan kejayaan Islam pun dapat dirasakan di kawasan ini.

Memasuki kawasan perbukitan jalan menanjak tapi mulus, perjalanan pun sangat nyaman. Ini yang saya suka dari India, jalanan disini bagus kondisinya.
Perbukitan yang penuh dengan pohon-pohon tapi jangan harap bisa menandingi indahnya perbukitan di lembah Himalaya. Meski saat ini winter, dinginnya udara serasa kering dan sengatan matahari tetap saja lumayan membakar.

Bagian dalam Shahar Ki Masjid

Shahar Ki Masjid, dipercaya sebagai masjid pribadi Sultan yang berkuasa saat itu. Arsitekturnya ? Tentunya tak mengherankan jika Shahar Ki Masjid memiliki arsitektur yang tak kalah indah dengan arsitektur peninggalan Islam di kota lain. Meskipun pemerintah India kurang peduli dengan kondisi bangunan masjid kuno ini, namun sisa-sisa kemegahan masjid di abad 15 masih dapat dilihat.
Dua menara (minaret) yang berdampingan dengan kokoh menjadi salah satu pintu masuk ke masjid.
Ruangan dalam masjid penuh pilar yang jumlahnya tak diketahui. Konon jika kita mencoba menghitung akan selalu berbeda hasil hitungan jumlah pilar dalam Shahar Ki Masjid.

Jama Masjid Champaner
Jama Masjid, tak jauh dari Shahar Ki Masjid (sekitar 1-2 km). Masjid terbesar di area ini masih lumayan lengkap bangunannya. Masih dengan model banyak pilar dan pahatan-pahatan yang artistik, juga pada jendela dan dinding masjid. Bisa dikatakan setiap sudut masjid ini merupakan bagian dari karya seni tinggi.
Arsitekturnya merupakan perpaduan seni Hindu dan Muslim, dengan ornamen berlian, bunga teratai, pot, bunga rambat, matahari yang dapat ditemukan pada bangunan Muslim maupun Hindu sebelumnya. Bangunan ini di klaim sebagai masjid terindah di kawasan India Barat.
Ruang utama masjid yang digunakan untuk namaz (sebutan salat di India), akhirnya saya menemukan bagian ruangan yang diperuntukkan bagi wanita untuk menunaikan ibadah namaz.
Terbukti bahwa dahulu wanita boleh menunaikan ibadah di masjid, entah sejak kapan dan apa alasannya kini wanita muslim India tidak diperkenankan untuk menginjakkan kaki di masjid.

Bagian dalam Jama Masjid Champaner


Di bagian belakang area masjid terdapat kolam buatan yang cukup besar, konon jaman dahulu digunakan untuk menampung air hujan yang digunakan untuk berwudlu. Hebatnya lagi dahulu sudah ada sistem kanal-kanal yang digunakan mengalirkan air hujan untuk ditampung di kolam buatan.
Keindahan Jama masjid tidak hanya pada bangunannya saja tetapi juga taman yang berada di sekitar area masjid.
Tak jauh dari kolam buatan terdapat pepohonan penuh bunga merah jambu yang berguguran hingga menyelimuti tanah dengan keindahan warnanya.

Pepohonan di area Jama Masjid Champaner

Ada juga bangunan baru yang didirikan oleh pemerintah setempat sebagai fasilitas umum, yaitu toilet. Walaupun bangunannya cukup bagus tampak luarnya jangan berharap di dalamnya juga bagus. Sebagus apapun fasilitas umum di India, orang India terkenal jorok, jadi bersiaplah tissue dan sesuatu untuk alat bantu menutup hidung !

Setelah puas ngeluyur di masjid, kamipun bergerak ke bagian lain dari bukit, tepatnya sebelah selatan bukit Champaner. Sampailah di Saat Kaman atau bisa disebut juga dengan Seven Arches.
Sangat jarang wisatawan mengunjungi tempat ini, tidak seperti Shahar Ki Masjid maupun Jama masjid, tempat ini cenderung sepi dan tak terawat. Bangunannya pun hanya tinggal reruntuhan.
Saat sampai di sana pun kami hanya menjumpai para pengemis tua (atau pendeta ? ) pengelana Hindu yang meminta sedekah.

Tidak ada informasi yang lengkap mengenai reruntuhan bangunan berbahan batu kuning ini, bahkan suami yang ahli dalam sejarah India pun mengatakan kurang paham dengan Saat Kaman.
Melihat struktur bangunan dan letaknya yang strategis di atas bukit, sepertinya bangunan ini digunakan untuk sarana militer pada saat itu.

Seven Arches - Saat Kaman

Saat yang berarti tujuh, tetapi hanya enam lengkungan saja yang tersisa di reruntuhan. Hingga saat ini saya pun belum mengetahui makna lengkungan yang ada pada bangunan. Apakah semacam hiasan struktur pada benteng militer untuk menyambut panglima perang atau pahlawan perang ? Wah mulai deh too much imagination, akibat terlalu banyak menonton film Tiongkok.
Tetapi sepertinya pemikiran saya ada sedikit benar, melihat posisi strategis di atas bukit hingga dapat melihat area luas tanah jauh di bawahnya, seperti bangunan yang mirip dengan benteng pertahanan militer di film-film Tiongkok. Terdapat bukaan di dinding tembok seperti jendela-jendela yang mungkin digunakan untuk regu pemanah atau meriam.

Seven Arches

Masih banyak tempat di Champaner yang belum dijelajahi. Matahari mulai bergeser turun, tak mungkin kami memaksa untuk tinggal di area tersebut untuk menjelajah lebih jauh demi memuaskan rasa penasaran saya saja (suami sudah berulang kali mengunjungi area ini).
Rasa penasaran saya pun mengharuskan kami kembali di lain waktu. Menguak bagian cerita kejayaan Islam masa lampau, yang mampu menorehkan tinta sejarah di tanah yang mayoritas dihuni oleh masyarakat Hindu.
Sebagai catatan, sebaiknya tidak menggunakan tripod untuk kamera di area ini. Meskipun pengambilan photo menggunakan camera diperkenankan tapi tidak dengan tripod !
Aneh ?
Inilah India, negara dengan keunikan (aka keanehan) dan keistimewaannya.


You Might Also Like

0 comments

Popular Posts