Saputara Hill Station | Dataran Tinggi Rumah Para Ular

18:13


Selain Pavagadh, Gujarat memiliki dataran tinggi yang lain. Kali ini bukan merupakan tempat cagar budaya UNESCO, tetapi tempat wisata dan beristirahat sejenak dari rutinitas sehari-hari.
Tadinya saya berpikir ah malas hanya begitu dan perjalanannya juga lumayan memakan waktu kira-kira tiga jam.

Photo peternakan lebah yang suami kunjungi beberapa tahun yang lalu, membuat saya berubah pikiran.
Betul sekali, saya membutuhkan madu asli yang sulit didapatkan di Bharuch dan sekitarnya. Peternakan lebah disini dimiliki oleh pemerintah, hingga pabrik untuk produksi dalam kemasan.
Banyak madu dijual dalam kemasan tetapi sudah bukan madu asli lagi, banyak penambahan bahan-bahan lain bahkan pemanis buatan yang menurunkan kualitas dari madu.

Biasa sebelum berangkat mengunjungi suatu tempat saya selalu mengumpulkan informasi tentang tempat tersebut. Sepertinya tidak begitu buruk tempatnya, kemungkinan seperti tempat wisata Kaliurang, atau Sarangan di lereng Lawu.
Yang menarik dari informasi ini, nama Saputara ternyata berarti rumah para ular. Ah betapa saya tidak suka dengan ular, kembali menciut niat untuk pergi.
Setelah diyakinkan suami bahwa ular hanya terdapat di lembah bagian lain yang kami tidak akan melewatinya, akhirnya saya pun setuju untuk pergi.

Jam setengah empat dini hari mobil kami pun meluncur keluar dari area rumah. Sengaja kami berangkat dini hari ingin mengejar sunrise dari bukit Saputara.
Perjalanan dini hari lumayan mengasikkan. Jalan tidak terlalu lengang tapi setidaknya tidak seramai siang hari. Truk dan bus antar kota tetap banyak berlalu lalang, tapi semuanya lancar.

Ternyata kami salah memperkirakan waktu, sunrise di bukit pun gagal. Kami masih dalam perjalanan saat matahari mulai muncul dari peraduannya. Tanpa sunrise di bukit pun kami masih bisa mendapatkan pemandangan yang luar biasa.
Sungai-sungai dengan kabut di sekitarnya yang menjadi dekorasi penghias dalam lukisan alam nan cantik.

Sungai dan Kabut

Sampai di bukit, hari masih sangat pagi. Kami menggunakan google map untuk menentukan mana yang harus kami kunjungi terlebih dahulu.
Rose Garden, taman bunga yang (seharusnya) penuh dengan rumpun bunga mawar warna warni menjadi jadwal kami yang pertama.
Sayangnya tidak banyak pohon mawar di taman tersebut, menurut info sebaiknya datang pada musim penghujan Juni - November, karena hanya di musim penghujanlah Saputara terlihat cantik dan tentunya mawar-mawar ini pun akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan saat ini (mungkin seperti gambar yang saya lihat di google saat mencari info tentang Saputara).

Rose garden Saputara

Berpindah ke area danau. Tak jauh berbeda dengan dugaan saya, danau ini mirip dengan danau Sarangan di lembah gunung Lawu. Disediakan perahu boat dan perahu kayuh untuk disewa pengunjung. Tentunya banyak pengunjung yang datang secara rombongan dengan keluarga karena memang Saputara yang berhawa sejuk lebih cocok untuk wisata keluarga.

Di sekitar danau banyak penjual buah-buahan seperti jambu biji dan strawberi. Kami pun membeli beberapa untuk menemani bekal sandwich dalam lunch box.
Jika perjalanan tidak terlalu jauh memang saya selalu menyiapkan makanan untuk bekal, mengingat keajaiban rasa makanan India. Karena tak mudah menemukan tempat makan yang menyajikan makanan yang enak dan higienis (terutama sesuai dengan lidah Indonesia).

Peternakan lebah Saputara, ternyata tak jauh dari area danau. Hanya berjalan sedikit mendaki selama lima menit, kami pun sampai di area peternakan lebah.
Madu hasil peternakan dijual per botol 300 ml beserta hasil olahan makanan lain khas daerah sekitar, seperti hasil olahan buah-buahan kering. Harga madu pun terjangkau hanya sekitar Rs 130 per botol.
India terkenal murah untuk makanan, asal bukan di tempat-tempat khusus seperti pinggir jalan antar kota yang terpelosok (jadi teringat perjalanan Delhi - Manali - Delhi yang begitu ajaib, makanan rasa ajaib dengan harga yang ajaib pula).

Bosan berkeliling di area yang sama, kami pun mencoba jalan lain yang lebih menanjak. Suami pun belum pernah mengunjungi area tersebut.
Menyusuri jalan menanjak mengikuti beberapa mobil yang juga berjalan ke arah yang sama, kami pun menemukan area parkir terbuka.
Beberapa mobil masuk dan parkir disitu, ada satu dua mobil yang terus naik. Tidak berani spekulasi karena malas memutar nantinya, suami memutuskan untuk ikut parkir disitu.
Matahari saat itu sudah tinggi, pancaran sinarnya cukup menyengat dan membuat hawa menjadi panas. Kami pun melepas jaket tebal sebelum meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Saya mengganti jaket tebal dengan jaket jeans yang saya persiapkan di dalam mobil. Tetapi suami malas mengenakan jaket jeans karena hawa yang panas (atau malas kembaran ?). Dengan sedikit memaksa, saya berikan jaket untuk dipakai naik ke atas.

Dari area parkir terdapat jalan tangga yang cukup lebar (bisa dilewati 3 orang) untuk naik ke atas. Kami pun mulai menapaki tangga satu persatu.
Belum juga separuh perjalanan, angin kencang super dingin menerpa tubuh kami. Kami pun tertawa dengan kejutan ini. Suhu di area parkir dan atas bukit sungguh kontras. Menyesal kami melepas jaket tebal, tetapi setidaknya bersyukur saya tadi memaksa untuk mengenakan jaket jeans. Walaupun tidak sehangat jaket tebal paling tidak membantu agar kami tidak terlalu menggigil.

Table Top Saputara, bukan bukit tertinggi karena saya masih bisa melihat adanya puncak lain yang lebih tinggi. Tapi, lagi-lagi muncul betapa istimewanya alam India.
Jika di Indonesia saya dulu harus mendaki dengan susah payah Sikunir Dieng untuk mendapatkan pemandangan negeri diatas awan.
Bukit Saputara ! Betapa mudahnya saya mengunjungi dan melihat negeri di atas awan. Seluas mata memandang awan-awan putih beterbaran, puncak-puncak bukit menjulang indahnya melebihi gedung pencakar langit. Jangan salah, bahkan tidak perlu harus berjalan melalui anak tangga seperti kami. Mobil pun bisa langsung sampai area parkir atas, jika saja suami tidak mengurungkan niatnya untuk melajukan mobil ke atas tentunya kami akan lebih mudah mencapai tempat itu.

Table Top Saputara

Hawa dingin menusuk dengan angin yang tidak sepoi-sepoi, kami pun sempat berlindung dari hembusan angin kencang dan debu yang betebaran. Sambil berlindung di salah satu warung tenda, kami membuka bekal makan siang, dan menambahkan sepotong jagung bakar yang dibeli dari warung tempat kami berlindung sebagai menu tambahan.
Mata saya beredar mencari dimana bisa membeli minuman hangat. Tapi anehnya di setiap sudut hanya saya temukan penjual minuman dingin. Aneh, tapi inilah Saputara. Hawa dingin tak membuat pengunjung melewatkan minuman dingin.
Setelah menyusuri area bukit yang luas barulah kami temukan satu penjual minuman hangat.


Area ini juga merupakan tujuan wisata terkenal di Saputara. Dari permainan lempar gelang, persewaan unta hingga persewaan motor mini tersedia disini. Tapi tentunya kami lebih tertarik berlama-lama di dekat pagar bukit untuk menikmati indahnya pemandangan Saputara.
Angin makin berhembus kencang, kami memutuskan untuk turun ke tempat parkir.
Kembali kami bertemu dengan hawa panas ketika kami turun, padahal jarak bukit dengan area parkir hanya 5 menit berjalan kaki, begitu kontrasnya kondisi alam disini.

Perjalanan pulang sungguh membosankan. Berbeda dengan kondisi jalan saat pagi yang sejuk dan penuh kabut, perjalanan pulang kami dihadapkan dengan jalanan yang panas terik. Apalagi ciri khas mobil di India yang seperti aquarium (kaca bening), AC pun tak banyak membantu.
Ternyata di sepanjang jalan menuju Saputara terdapat tempat menjual aneka juice buah hasil dari perkebunan. Kami pun mampir sekedar melepas dahaga, dengan banyak pilihan juice buah akhirnya kami memilih 2 jenis buah dicampurkan, harganya cukup murah hanya Rs 40 per gelas.
Dua gelas untuk masing-masing orang cukuplah sebagai penghilang dahaga dan mengobati rasa bosan dalam perjalanan pulang.


You Might Also Like

0 comments

Popular Posts