Dargah Nizamuddin Sang Wali

09:36



New Delhi menyimpan banyak fakta sejarah yang tak banyak orang mengetahuinya.
Di suatu tempat bernama West Slum, terkuaklah suatu kisah, tentang cinta, toleransi, dan keterbukaan dari seorang wali Allah.
Ternyata memang begitulah ajaranNya.

Memasuki kawasan Masjid dan Dargah Nizamuddin, kami disambut riuhnya para pengemis dan pedagang. Mereka berusaha menarik perhatian pengunjung dengan tujuan masing-masing.
Lelaki berseragam qamiz putih dan berjengot serta para wanita berjubah hitam dengan cadarnya banyak berlalu lalang.
Memang bukan pemandangan yang aneh. Tak harus jauh ke negeri Arab, lingkungan muslim society di India pun rata-rata berpenampilan seperti itu.
Mendekati lokasi masjid dan dargah Nizamuddin jalanan semakin sempit dan padat dengan kios  pedagang. Mengingatkan saya pada makam para wali di Indonesia. 

jalanan sekitar dargah
Tak terlalu jauh kami berjalan, sampailah di lokasi.
Ditandai dengan terdengarnya alunan suara nyanyian syair yang indah.
Meskipun saya tidak paham dengan bahasa urdu yang digunakan, cukuplah suami memberi penjelasan tentang apa yang kami dengar.
Dan memang alunan musik pengiring yang dimainkan serasa merengkuh indah dalam lantunan syair.
Para pelantun syair dan musik ini duduk menghadap pada dargah seorang ulama besar, wali Allah. Tradisi musik ini biasa dilakukan untuk menghormati dan memberi salam kepada para Sufi.

Setahun lamanya saya mendengar kebesaran dan kearifan seorang Nizamuddin dari suami. Lantunan lagu pujian juga sering saya dengarkan melalui YouTube. Beruntunglah saya akhirnya bisa berkunjung ke hadapan Sang Auliya.

Sang Auliya Nizamuddin
Meski tak terlalu jelas memandang tempat terbaringnya Sang Auliya, karena para wanita dilarang masuk. Cukuplah kiranya bersimpuh di luar, dengan dibatasi tembok kayu berukir.Banyak celah ukiran yang dapat digunakan untuk melihat ke dalam makam.
Hanya suami saya saja yang diperkenankan untuk masuk.


Pandangan saya berusaha mengamati sekitar. Para wanita tak hanya berjubah hitam saja yang duduk bersimpuh di hadapan Sang Auliya, tetapi juga para wanita yang mengenakan Saree pakaian khas masyarakat Hindu di India.
Mereka bersimpuh memanjatkan doa dan permohonan.
Entahlah, bahkan masyarakat non muslim pun begitu percaya untuk meminta kepada Sang Auliya yang sudah lama meninggalkan alam fana.

Di seberang makam terdapat masjid dan ruangan tempat dimana para tamu Sang Auliya Nizamuddin dijamu dengan makanan vegetarian sederhana. Saya melihat langsung tak hanya tamu muslim saja.
Hal ini meneruskan ajaran Nizamuddin yang gemar memberikan suguhan pada tamu-tamunya. Dan menolong siapapun tanpa memandang ras dan agama.

Ada satu kalimat dari Nizamuddin yang saya suka.
Women are equally endowed with spiritual power and talent. They are equal to men in spiritual discipline.
Tetapi, apakah muslim di India masih mengikuti perkataan Sang Auliya tentang wanita ?

Bergegas saya meneruskan perjalanan menuju lokasi lain, tak lama setelah saya lantunkan beberapa bait doa tanpa permohonan untuk sang Auliya.


Catatan
Dargah adalah makam para sufi/wali/auliya

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts