Dharamsala | Pesona McLeod Ganj Kawasan Dunia di Tanah Hindustan

23:59



Penat melanda ketika memasuki Dharamsala.
Masih pagi, hingga udara segar musim panas pun tercium harum. Tak jauh jaraknya dari perbatasan Jammu – Punjab tempat kami menghabiskan malam sekejap dengan tidur dalam mobil di pinggir jalan.

Terminal bus Dharamsala masih tampak lengang, berbekal dengan panduan Google kami meluncur kearah McLeod Ganj yang biasa disebut Upper Dharamsala.
Disitulah tempat pusat keramaian di Dharamsala.
Jalan mulai menanjak serasa berjalan di jalanan vertikal, kondisinya juga sempit. Was-was menahan nafas sambil berdoa, feeling saya mengatakan Google memberikan jalan lain yang lebih sulit seperti yang sudah-sudah.

Lalu lalang kami temui para biarawan berjubah oranye berpadu marun, berjalan kaki entah kemana. Tapi tak satupun mobil atau kendaraan yang kami temui melewati jalan menanjak dan meliuk sangat tajam ini.

Sampai di kawasan Mcleod Ganj, deretan pertokoan berjajar rapat menawarkan berbagai macam souvenir khas Tibet. Dari perhiasan atau aksesoris ala Tibet, batu-batu alam yang konon memiliki fungsi untuk kesehatan dan keberuntungan, baju, hingga dekorasi rumah. Tak kalah padat juga restoran yang kebanyakan menyajikan menu ala western.
Tak perlu takut dengan masakan India yang sering terasa ajaib, di Mcleod Ganj dari pizza hingga Chinese food lengkap ditawarkan.
Toko-toko penjual minuman beralkohol tak ketinggalan turut meramaikan kawasan Mcleod Ganj.
Hotel di kawasan ini juga terkenal murah, tapi sebaiknya gunakan aplikasi untuk pemesanan online. Di India saya biasa menggunakan aplikasi travel online Goibibo atau MakeMyTrip pilihan tergantung mana yang saat itu memberikan penawaran yang lebih menarik.

Jam masih menunjukkan pukul 10.30 pagi saat kami chek in, membuat kami harus menunggu hingga pukul 12 siang. Memaksa pun percuma, kamar kami masih ditempati oleh penyewa sebelumnya. Sepertinya Dharamsala memang selalu penuh pengunjung.
Lalu lalang berbagai orang dari manca negara, dari yang berambut gimbal hingga berambut blonde. Saat ini merupakan summer holiday di India, tak heran jika penginapan dipenuhi juga oleh pengunjung domestik.

Rasa lapar pun melanda, saya pun teringat terakhir kali kami mengisi perut di daerah Udhampur setelah melewati jalanan perbukitan Patnitop Kashmir. Meskipun makanan semalam, nasi dengan kari kambing yang disajikan cukup lezat dan membuat saya mengisi penuh ruang di perut, perjalanan yang cukup jauh membuat saya merasa sangat lapar seperti tidak makan berhari-hari.
Pilihan jatuh pada restoran yang tak jauh dari hotel.

Tak sabar saya menunggu pesanan yang akan menjadi makan pagi sekaligus makan siang kami. Seporsi besar chicken manchurian ball dan seporsi nasi, juga cream soup. Seporsi di india bisa untuk makan berdua kecuali kapasitas perut benar-benar luar biasa.
Sengaja saya memilih manchurian ball untuk membandingkan masakan Tibetian yang masih satu rumpun dengan ras Cina dan masakan orang India.
Kami sempat membeli manchurian ball saat berhenti untuk makan malam di daerah Rajashtan ketika awal keberangkatan di liburan musim panas ini.
Tak mengecewakan, saus Manchurian ala Tibetian ini jauh lebih bisa diterima lidah Asia saya. Enak,  dan dalam sekejap mangkok dan piring kami licin tandas.

Chicken Manchurian

Usai beristirahat tidur selama 3 jam lebih, kami memutuskan untuk berjalan-jalan sore ke area keramaian yang berjarak sekitar 600-700 meter dari hotel.
Turis manca banyak berlalu lalang dengan dandanan model hippies. Sepertinya para pendatang dari manca ini tinggal dalam waktu yang lama di Dharamsala.
Mungkin karena kekaguman mereka akan kharisma Sang Dalai Lama.
Sejak Dalai Lama ke -14 mengungsi ke daerah ini, Dharamsala menjadi sorotan dunia. Dan berawal pada saat itu para pengungsi lain dari Tibet pun membanjiri kawasan ini. Dharamsala pun menjadi Central Administration Tibetian.
Kini banyak biarawan atau bhiksu Buddha yang datang ke Dharamsala untuk belajar tentang agama  dan bertemu langsung dengan Dalai Lama.
Banyak pamflet dan board yang menunjukkan dibuka kelas untuk Yoga, meditasi dan lainnya. Bahkan kelas untuk belajar memijat pun ada saya lihat. Mungkin para pendatang tidak hanya bertujuan untuk belajar agama Buddha dan mencari kedamaian saja, kelas-kelas belajar lainnya pastilah dibuat untuk mewadahi mereka.

Pusat keramaian Mcleod Ganj sore itu dipadati dengan para pejalan kaki. Kami pun masuk satu persatu ke dalam beberapa toko yang menjual souvenir khas Tibet.
Parfum, aroma terapi, dupa, teh, hingga pernik yang terbuat dari porselin sungguh memanjakan mata bagai magnet bagi dompet.
Sampailah di satu toko lumayan luas, Tibet Doors. Tak seperti toko yang lain disini pengunjung sangat ramai. Fasilitas toko seperti swalayan dengan menyediakan keranjang kecil sebagai tempat barang yang kami pilih. Para pegawai toko siap melayani pertanyaan pengunjung yang membutuhkan informasi tentang barang yang dijual. Bahkan sang pemilik pun ikut melayani ketika saya membutuhkan informasi tentang batu alam dan minyak aromaterapi.
Layanan seperti ini lah yang membuat pembeli nyaman hingga menghabiskan berlembar-lembar uang rupees.
Toko Souvenir
Pandangan saya tertuju pada hiasan seperti bendera warna warni yang berada di depan toko. Saya tergelitik untuk bertanya, berfungsi untuk apakah hiasan itu, karena di beberapa toko saya lihat jelas memasang bendera yang sama.
Ternyata bendera warna-warni itu mengandung mantra doa, dengan hembusan angin akan membawa doa dan permohonan ke langit. Pemilik Tibet Doors memberi penjelasan sembari memberikan satu set bendera berukuran kecil kepada saya.

Senja mulai turun, kami pun memutuskan untuk berjalan kembali ke hotel sambal menenteng tas hasil belanja di Tibet Door.
Melewati penjual momo (dumpling) kami pun berhenti untuk membeli seporsi momo non veg (ayam), yang akhirnya kami makan di emper toko penjual snack dan minuman (karena beli minuman disitu).
Nikmat, makan momo hangat ditengah hembusan angin gunung yang menggigit tulang.
Perbukitan Dharamsala
Hari mulai gelap ketika kami menghabiskan sepiring momo dan kemudian melanjutkan perjalanan. Meninggalkan pusat keramaian tak banyak lampu penerangan di pinggir jalan. Suasana temaram dengan pemandangan lampu-lampu di kejauhan.
Dharamsala seperti perbukitan Himalaya lainnya memliki pemandangan yang elok, tak hanya di siang hari. Layaknya gugusan bintang di langit, lampu-lampu berkelap-kelip  di perbukitan.
Sungguh tampak indah.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts