Menggapai Secuil Sudut Surga Dunia

03:46


Surga di dunia, begitulah orang menyebut Kashmir yang memang menurut bahasa lokal bermakna surga.
Tak heran beberapa teman, famili, dan kolega di India berkomentar “wow jannah” ketika mengetahui kami  memilih untuk nekat memilih  Kashmir sebagai salah satu tempat persinggahan pada liburan musim panas yang lalu.

“Jannah memang indah, tapi sayang kondisi di sana tak menentu, pikirkanlah lagi.” Seorang teman memberi nasehat sebelum keberangkatan kami.
“Hidup tanpa berpetualang rasanya hambar Bhai !” hanya senyum penuh keyakinan saya berikan sebagai jawaban kekhawatirannya.
Kashmir  letaknya di bagian utara India, dalam lingkaran rantai pegunungan Himalaya yang indah.  Gambaran keindahan surgawi namun ternoda dengan konflik yang hingga kini masih terus berlangsung bahkan semakin parah.
Bukan lagi sebatas konflik India-Pakistan, tetapi yang tak banyak orang di belahan dunia lain ketahui bahwa banyak rakyat Kashmir bukan pro Pakistan tetapi menginginkan kemerdekaan Kashmir.
Meski demikian kondisi ini tidak menyurutkan langkah kami untuk terus menuju jannah.

Dari Delhi kami mulai perjalanan menuju surga, meninggalkan kepadatan dan kemacetan lalu lintas kota Delhi yang saat musim panas selalu suhunya teramat tinggi.
Menyusuri  highway  jalan penghubung antar kota di India yang cukup bagus dan mulus hingga melewati daerah Punjab yang tetap menghijau meski di musim panas.
Perjalanan lancar, kami hanya beberapa kali berhenti untuk membeli bensin dan sekedar beristirahat meregangkan otot yang kaku.

Sampailah kami di perbatasan Punjab dan Kashmir.
Tidak seperti melintas di daerah tanah Hindustan yang lain, Kashmir memang istimewa, begitu juga dengan perlakuan pemeriksaan para pendatang bak melintas negara lain.
Belum terasa aroma bau surga di sana, hanya pemandangan para militer yang siap siaga dengan senjata laras panjangnya.
Menuju Jammu ( ibukota Kashmir di musim dingin), kami melewati beberapa pos penjagaan militer. Saya mulai was-was, benarkah yang dikatakan sebagian orang India tentang Kashmir yang selalu bergolak, ataukah benar rumor bahwa Kashmir bagaikan bumi Palestina yang merana berhias letupan kembang api maut ?
Dan kami hanya berdua saja mengendarai kendaraan mungil berusaha menggapai indahnya surga di dunia.

“Apapun kondisi keamanannya, Kashmir selalu aman dan ramah kepada semua turis pendatang” itu yang dikatakan seorang teman Kashmiri di salah satu forum traveler.
Mengingatnya hati saya sedikit tenang, meski tak berkurang juga pos penjagaan militer dan pemeriksaan selepas kota Jammu.

Hujan rintik di akhir musim panas menambah mencekam perjalanan malam itu.
Hingga pagi menjelang, matahari mulai muncul ketika kami sampai di Patnitop, puncak bukit di daerah Udhampur.
Harumnya pepohonan hijau mulai tercium.
Pemandangan cantik dengan saputan kabut tipis diantara pepohonan Maple. Tapi masih belum berasa surganya.
“Jadi, di mana surga itu ? Tanya saya spontan memecah keheningan dalam mobil.
“Entahlah” Jawaban malas dari orang yang hampir 24 jam menyetir tanpa istirahat, saya maklum.
“Setidaknya Himachal tak sehijau ini” gumam saya berusaha menghibur diri.

Ternyata perjalanan menuju Srinagar ibukota Jammu-Kashmir masih sangat jauh.
Pemandangan hijau perbukitan berganti dengan gersangnya gerusan bukit karena pembangunan jalan baru.
Perjalanan juga terhambat kemacetan setiap kami melintasi area pasar. Dan tidak main-main macetnya hingga berjam-jam jika ditotal.
Jumlah militer berpatroli dan berjaga sepanjang jalan pun tak surut.
Truk militer berlalu lalang diantara banyaknya mobil jeep yang merupakan taxi di area Jammu-Kashmir,  beberapa mobil pribadi juga turut meramaikan jalanan Jammu – Srinagar.

Padatnya lalu lintas tak berkurang juga hingga memasuki kota Srinagar. Gambaran kota yang asri pun tak nampak.
Pupus bayangan kami akan surga yang indah berganti seiring dengan jajaran bangunan ala kota tua Kashmir yang memang berbeda dengan daerah lain di India.
Hanya satu dalam pikiran kami saat itu, hotel untuk beristirahat.
Cukup lama kami berkeliling di kota  untuk menemukan hotel sesuai  budget kami tentunya  dengan kondisi kamar mandi yang bersih.
Ya, di India kamar mandi adalah hal yang sangat penting untuk diperiksa sebelum kita memutuskan untuk menyewa kamar budget hotel.

Tak banyak pilihan karena Srinagar terjadi lonjakan turis pendatang, kami akhirnya menempati hotel di kawasan Khayam Chowk untuk beristirahat semalam sambil mencari melalui jasa online hotel yang lebih nyaman.
Hotel yang kami tempati  berada di pusat keramaian, kamipun mencoba berjalan kaki menyusuri area sekitar.
Berjajar  Dhaba  yang menjajakan berbagai macam makanan yang rata-rata hampir sama. Dominasi aroma daging ayam dan domba menjadi pengharum sepanjang jalan.
Penduduk Kashmir 90% adalah muslim, tentunya tak perlu khawatir dengan makanan halal.
Tak kalah menarik di sudut jalan kami melihat satu kios penjual ikan segar, besar-besar ukurannya tapi tak tercium bau anyir ikan di sekitar kios.

Tampaknya ikan –ikan tersebut hasil tangkapan dari sungai Jhelum yang merupakan anak sungai Indus.
Khayam Chowk - Srinagar Kashmir
Kamipun memasuki salah satu restaurant mungil bernama Shahi Darbar karena bujukan sang pemilik yang turun langsung menghampiri para pejalan kaki di sekitarnya. Tak begitu besar namun bersih dan sarat pengunjung, mungkin karena marketing sang pemilik yang begitu menarik dan ramah.
Seporsi besar fish curry dihidangkang beserta nasi putih dan beberapa lembar chapati. Tak lupa saus ala Kashmir berupa saus bawang merah, saus yoghurt, dan saus daun mint.
Rasanya tak seheboh  masakan India. Untuk lidah Indonesia saya, bumbu ala Kashmir sangat bisa dinikmati.
Dan akhirnya saya pun bisa menikmati kesegaran ikan dari Sungai Jhelum.

Fish Curry Srinagar Kashmir

Keriuhan dan kemacetan kota Srinagar sudah terasa sejak pagi.
Melewati jembatan dengan pemandangan sungai beserta houseboat tua kumuh, dari jauh terlihat beberapa kios sovenir yang mulai ramai pengunjung.
Tak lama kami pun berganti pemandangan dengan barisan houseboat cantik dan shikara yang terapung di Dal Lake.

Pemandangan Dal Lake sungguh menakjubkan. Bak lukisan indah danau berlatar jajaran pegunungan Zabarwan.
Keindahan yang sempurna hasil karya-Nya pantas mendapatkan julukan Srinagar Jewel.
Sejak jaman kekaisaran Mughal danau ini sudah memikat hingga beberapa generasi, hingga Sang Kaisar membangun taman di sekitar danau yang dikenal dengan Shalimar Bagh dan Nishat Bagh.

Udara sejuk menyeruak memasuki dalam mobil.
Lupakan sejenak hiruk pikuk sisi lain kota Srinagar, Dal Lake yang ternyata adalah jantung wisata kota Srinagar benar-benar menyihir pandangan kami.
Shikara terapung menyusuri tenangnya air danau mengingatkan saya akan gondola di Venezia. Tak heran Dal Lake dijuluki juga sebagai Venice of Asia.

Shikara Dal Lake

Ketenangan air danau mematahkan kekhawatiran akan isu kondisi keamanan Kashmir.
Selain keindahan danau beserta jajaran kios sovenir ala Kashmir yang menarik hati, tempat lain yang bisa dikunjungi tak jauh dari danau adalah taman-taman penuh bunga yang mempesona.
Mulai dari taman yang dibangun di era kekaisaran Mughal, Shalimar bagh, Nishat bagh, Mughal garden hingga botanical garden dan Indira Gandhi memorial Tulip garden.
Sayangnya kami tak beruntung, saat itu Tulip garden ditutup untuk umum.
Menurut informasi dari penduduk lokal yang kami temui di dekat area parkir botanical garden, Tulip garden hanya dibuka saat musim semi saja, ketika bunga-bunga indah mulai bermekaran.
Umumnya di bulan Maret, tetapi tidak bisa juga menentukan waktu yang tepat karena kadang musim dingin yang panjang mengakibatkan musim semi pun mundur.

Suasana malam di Dal Lake pun masih begitu indah berpadu dengan keramaian wisatawan dan para penjual sovenir kerajinan khas Kashmir.
Terang bulan purnama menambah sisi romantis shikara yang mengapung di danau.
Indahnya...



catatan

Bhai panggilan akrab untuk laki-laki yang artinya saudara/kakak/adik
Dhaba warung makan / street food 

Gambar shikara by google

Versi editannya pernah tayang di Harian Suara Merdeka


 

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts