Muslimah di Negara Ribuan Dewa

03:23



Bunyi sirine kembali terdengar pertanda telah masuk waktu iftar. Hidangan takjil ala India dan buah-buahan khas musim panas pun siap disantap. Meski tak semeriah sajian di kampung halaman, ritual buka puasa yang di India disebut iftar cukup menarik.

Samosa, salah satu sajian iftar

Tahun ini adalah Ramadhan kedua saya di India. Tak banyak berubah yang saya alami selama Ramadhan tahun ini. Tetapi tentunya ada yang bertambah, yaitu daya tahan tubuh saya terhadap iklim ekstrim India, juga pengalaman dan pengetahuan baru tentang sekitar.
Tidak mudah sebagai seorang pendatang untuk menyesuaikan diri di negara yang penduduknya mayoritas memuja ribuan dewa. Meski tak sedikit pula ditemukan bangunan masjid dan komunitas muslim di India.
Kehidupan masyarakat India masih mengakar kuat pada tradisi, hal ini sangat sulit untuk proses penyesuaiannya, terutama jika tinggal jauh dari kota metropolitan.


Saya bersyukur tinggal di area yang 90% penduduknya muslim. Walaupun perbedaan dalam hal ibadah, dan tradisi muslim di sini sangatlah terasa, masyarakat muslim di lingkungan saya tinggal tak terlalu mempermasalahkannya. Begitu juga dengan keluarga baru yang saya dapatkan. 

Kebanyakan muslim di Indonesia merupakan pengikut Imam Syafii, sedangkan muslim sunni India adalah pengikut Imam Hanafi. Perbedaan mecolok memang terlihat dari tata cara salat yang di sini disebut namaz, terutama bagi para muslimahnya. Tapi ini tak membuat ibu mertua saya yang pernah melakukan salat bersama di satu ruangan mempermasalahkannya. Baginya yang terpenting adalah kami memiliki persamaan menganut ajaran Islam dan menyembah Tuhan yang sama, juga rasul yang sama, meski mengikuti ajaran dari imam yang berbeda.

Kerinduan untuk bisa beribadah salat tarawih di masjid kembali membuncah ketika Ramadhan datang. Di India kaum perempuan tidak diperkenankan untuk beribadah di masjid. Masjid hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki saja. Begitu juga dengan ziarah kubur, perempuan tidak diperkenankan. Sangat kontras dengan aktifitas muslimah di tanah air.
Beberapa kali saya bertanya tentang aturan larangan beribadah di masjid, ternyata jawaban akhir yang saya dapat bukan tentang aturan agama, tetapi masalah tradisi. Di India, perempuan dianggap memiliki posisi yang lebih rendah dibanding laki-laki. Tadinya saya pikir hanya di komunitas Hindu saja yang begini, ternyata ini adalah tradisi penduduk India apapun agamanya. 

Meski kini peradaban modern mulai mengikis tradisi, prosesnya sangat lambat. Akar tradisi memang sangat kuat menancap di setiap aspek kehidupan masyarakatnya, hingga tak mudah perubahan itu terjadi.
Di kota besar, kesetaraan perempuan mulai menyeruak di segala aspek terutama bagi mereka yang mengenyam pendidikan tinggi dan telah berbaur dengan komunitas internasional. Tapi ini juga belum bisa membuat pintu masjid terbuka bagi kami para perempuan yang merindukan salat berjamaah di masjid, terutama saat Ramadhan dan hari raya tiba.

photo : google
Meski persiapan menjelang lebaran tak seriuh di Indonesia, tradisi membeli baju baru pun ada di India. Warna warni gaun panjang yang disebut anarkali, kurta dan salwar kameez lengkap dengan dupatta menghiasi ruangan toko yang dipadati oleh para muslimah. Meski tak bisa ikut salat Ied mereka juga memiliki tradisi mengenakan baju baru saat hari raya lho. 

Bicara tentang pakaian, hingga kini masih banyak teman saya yang menanyakan apakah saya merubah penampilan dengan mengenakan saree pakaian khas India. Mungkin karena mereka banyak melihat sajian sinetron India. Dulu sebelum saya tinggal di India, saya juga berpikir bahwa saree merupakan pakaian yang dikenakan sehari-hari oleh masyarakat India. Tapi ternyata tidak demikian.
Gaun panjang anarkali, kurta, salwar kameez, dan abaya hitam atau burqa merupakan pakaian yang biasa dikenakan oleh muslimah India. Sedangkan saree biasa dikenakan oleh perempuan di komunitas Hindu. Nah, jika menonton sinetron India saja belum bisa dikatakan paham tentang tradisi di India yang memiliki masyarakat heterogen.
Namun ada juga muslimah terutama di India Selatan yang mengenakan saree dengan blus menutup perut, dikarenakan tradisi yang masih kental. Hal ini dapat dipahami karena tidak sedikit keluarga Hindu terutama yang berkasta rendah hijrah memeluk agama Islam. Ajaran Islam yang tak mengenal kasta tentunya menjadi daya tarik dan alasan mereka untuk berhijrah.

Muslimah India
Ternyata tradisi lama di India juga mempengaruhi tradisi komunitas muslim, sistem kasta ada juga di komunitas ini, meskipun aturannya lebih longgar. Misalnya dalam hal perjodohan dan pernikahan. Jangan harap keluarga muslim kelas bawah bisa menikah dengan mereka yang berasal dari keturunan kelas atas. Seperti pepatah Jawa bobot, bibit, bebet di India juga berlaku seperti ini.
Budaya masyarakat kelas bawah India juga banyak mempengaruhi komunitas muslim. Mereka cenderung berbicara keras dan kasar tak peduli itu laki-laki atau perempuan. Pemandangan dan suara orang beradu argumen karena hal sepele merupakan suguhan yang saya dapatkan hampir setiap hari di wilayah manapun.

Satu lagi yang membuat saya begitu merindukan tanah air, lingkungan yang jauh dari kata bersih. Orang India dengan gampangnya membuang sampah dan limbah di jalan. Binatang-binatang bebas berkeliaran di lingkungan manusia bak taman safari bagi mereka. Namun saya masih beruntung mendapatkan lingkungan tempat tinggal agak bersih dan tanpa ada babi berkeliaran. Meski di banyak komplek pemukiman muslim lainnya, banyak terdapat babi berkeliaran, memakan sampah dan limbah yang mereka buang. Hal ini juga karena pemerintah India tentunya lebih condong ke ajaran Hindu yang tidak memperkenankan menyakiti dan membunuh binatang.
Sisi positifnya, selain binatang-binatang yang tampak kotor dan kumuh, banyak juga burung-burung cantik bersuara merdu bebas beterbangan melintasi alam India. Padahal di Indonesia burung-burung ini banyak diperjualbelikan dengan harga yang lumayan mahal.

Lalu, apa yang menarik di India?

Sebagai muslimah, tentunya saya bangga melihat banyaknya masjid yang megah berdiri di banyak tempat, meskipun kami menjadi minoritas. Ketaatan penganut Islam di India pun tak diragukan kualitasnya. Di segala penjuru India, dimana komunitas muslim berada mereka sangat taat dalam mendirikan salat. Pasar dan toko-toko yang didominasi oleh kaum muslim mendadak akan senyap begitu terdengar dikumandangkan adzan. Para pedagang yang mayoritas laki-laki bergegas menutup tempat dagangnya lalu menuju masjid terdekat untuk melakukan salat berjamaah. Dari subuh hingga Isya beginilah aktifitasnya.

Anak-anak India pergi ke madrasah
Madrasah dan gedung pendidikan Alquran pun berdiri kokoh, jumlahnya tak sedikit. Anak-anak kecil tampak berjalanan beriringan tiap pagi dan sore menuju tempat dimana mereka akan ditempa sebagai generasi baru penjaga Alquran.
Rasa persaudaraan muslim di India sangat erat, saling bantu dan mendukung satu sama lain. Bahkan keturunan muslim India yang berada di luar negeri tak segan untuk selalu mengirimkan donasi bagi kepentingan komunitas muslim India dalam menegakkan agama Islam. Donasi ini biasanya untuk pendidikan dan kelangsungan hidup kaum dhuafa.


Di luar komunitas muslim, saya kagum juga dengan pemerintah India yang memberikan subsidi pada sektor pangan, kesehatan, dan pendidikan. Bisa dikatakan tiga hal tersebut seluruh masyarakat bisa menikmatinya. Saya jadi malu pernah beranggapan bahwa India merupakan negara miskin. Meski kondisi lingkungannya tak seindah dan serapi Indonesia, India memiliki industri maju yang diakui oleh dunia. Begitu juga dengan hasil pertaniannya, tidak pernah saya sangka India yang memiliki iklim ekstrim ini bisa memproduksi bahan pangan sendiri.

Hidup di lingkungan dengan tradisi yang jauh berbeda memang tidak mudah, butuh kesabaran dan kearifan untuk bisa perlahan menyesuaikan diri. Namun saya sadar, meski tampaknya tak seindah kehidupan di lain tempat, selalu ada pelajaran dan nilai positif yang bisa saya dapatkan. Seperti kata pepatah jangan menilai buku dari sampulnya.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts