Menyusuri Dinginnya Pegunungan Ladakh, Berkawan Dengan Kehangatan

08:55



Kamp militer merupakan yang khas ditemui di perbukitan Kashmir dan Ladakh tiap jarak 20-30 kilometer
Hanya beberapa ratus meter saja dari Zoji La kami bertemu dengan kamp militer dengan kafe sederhananya tempat untuk melepas ketegangan sementara sebelum melanjutkan perjalanan. Kami pun mampir.
Kamp militer tersebut sangat dekat berbatasan dengan Pakistan. Hanya 10 kilometer jarak udara saja jauhnya. Meski pegunungan kokoh menjadi pagar alam, namun tak mengurangi kewaspadaan para tentara India.

Kafe yang ada dikelola oleh militer, menunya pun sederhana. Maggie, mie instan khas India dan Momo yang merupakan makanan Tibetian. Minumannya hanya chai dan kopi saja.
Para tentara India berpakaian tebal yang berjaga di kamp sangat ramah dan menerima kami dengan hangat, tak sedikitpun ada kesan seram dari mereka. Informasi yang akurat tentang kondisi alam yang sering berubah dan tak bisa diprediksi kami didapatkan langsung dari mereka secara akurat. Kami pun mendapatkan informasi waktu-waktu yang tepat untuk berkendara di jalanan pegunungan Ladakh ini, terutama yang paling sulit memang saat melintas Zoji La.
Mereka akan menutup jalan dan melarang kendaraan melintas sewaktu-waktu saat turun salju ataupun longsor. Ya, memang paling tepat untuk melintasinya saat musim panas tiba. Atau setelah musim hujan hingga awal musim dingin (minggu kedua November jalan mulai ditutup).

Cafe di Kamp Militer
 
Puas menikmati seporsi mie instan, momo dan kopi hangat, kemudian kami pun melanjutkan perjalanan. Masih lumayan jarak yang harus kami tempuh untuk mencapai kota Leh.
Setelah kamp militer ini kami bertemu lagi dengan pos militer, namun kali ini untuk lapor dan pemeriksaan identitas diri. Cukup siapkan paspor saja, prosesnya tak memakan waktu lama.

Pos pemeriksaan passpor
DRASS

Hanya sekitar 40 kilometer perjalanan dengan pemandangan pegunungan coklat beserta selimut saljunya, kami sampai di Drass.
Drass merupakan kota kecil yang terkenal sebagai daerah terdingin nomor 2 di dunia. Karena saat musim dingin level merkuri di Drass bisa mencapai minus 45 derajat. Meski ketinggiannya hanya 3230 meter di atas permukaan laut, Drass dikelilingi pegunungan tinggi yang seluruhnya tertutup salju saat musim dingin tiba. Daerah ini juga terkenal di kalangan penggemar trekking dengan jalur trekking yang luar biasa menarik untuk dijelajahi.

Drass Ladakh
Kendaraan kami berjalan menyeruak keramaian jalan utama Drass yang padat dengan pertokoan dan manusia.
Orang berjalan lalu lalang mengenakan busana khas masyarakat muslim, dengan jaket wool dan mantel tebal panjang menjuntai hingga lutut. Penduduk Drass masih dominan beragama Islam. Bangunan masjid dan banyak tulisan berhuruf Arab bertebaran di area ini. Sayangnya sulit bagi kami untuk mendapatkan tempat parkir, hingga kami memutuskan untuk tidak berlama-lama berada di Drass.

Tempat terdingin nomor 2 di dunia
Perjalanan selanjutnya sangat tidak membosankan. Rindangnya pepohonan sepanjang jalan dengan warna khas musim gugur sangatlah indah. Udara dingin dari angin yang semilir, serta liukan sungai jernih hijau kebiruan dan pepohonan sepanjang pinggir sungai bagai menyihir kami, membawa angan serasa masuk ke dalam negeri bidadari.

Pemandangan Drass ke Kargil
KARGIL

Setelah berkendara selama dua jam, sampailah kami di Kargil. Merupakan kota kecil di area Ladakh, dan Kargil ini adalah kota terbesar kedua setelah Leh. Jadi tak heran suasananya jauh lebih ramai dibandingkan dengan Drass. Tempat ini posisinya lebih rendah dibanding Zoji la dan Drass.

Kargil - Ladakh
Riuhnya para pedagang dan pendatang meramaikan suasana siang itu. Kargil memang sering dijadikan persinggahan semalam bagi yang tidak ingin melakukan perjalanan pada sore atau malam hari menuju Leh, karena tentunya sangat riskan.
Kami memutuskan untuk menginap semalam di Kargil karena ingin melihat keadaan kota dan masyarakat di sana. Tak mudah untuk menemukan penginapan yang bersih dan nyaman saat menjelang musim dingin. Sebagian penginapan telah tutup. Tampak gembok bergantungan di depan pintu mereka. Kalaupun ada yang tampak buka, mereka menolak untuk menerima tamu karena telah bersiap untuk meninggalkan tempat mereka. Untungnya kami masih bisa menemukan penginapan yang cukup bersih.

Siachen, seperti nama glacier di Karakoram. Tempatnya juga menyediakan parkir yang cukup luas, air panas dan ekstra bed bisa juga didapatkan tanpa ditarik tambahan biaya lagi.
Para pengurus hotel ini adalah orang-orang Ladakhi yang ramah. Mereka hanya tersenyum dengan santun ketika kami menawar harga kamarnya. Jauh berbeda dengan orang-orang India pada umumnya yang mudah sekali emosi dan bersuara keras. Sekejap saya lupa bahwa saya masih berada di wilayah India. Akhirnya kami mendapatkan juga potongan harga meski hanya 100 Rs saja.

Anak-anak Kargil
Setelah urusan hotel selesai kami mencoba untuk berbaur di keramaian pusat kota Kargil. Di sepanjang jalan anak-anak kecil memanggil kami dan menyapa dengan ramah. Begitu juga dengan para pedagang buah dan makanan yang kami kunjungi. Mereka dengan hangat menerima kunjungan kami, menawarkan dagangan terbaiknya dengan harga yang tak mungkin lagi kami menawarnya, karena memang sudah sangat wajar harganya.
Perbukitan Kashmir dan Ladakh merupakan salah satu penghasil Apel terbaik di India. Tak hanya tampak cantik menggoda warnanya, tetapi rasanya pun sangat enak. Demikian juga kelezatan makanan di Kargil, membuat saya tergerak untuk mencicipi beberapa makanan non veg.

Masjid Kargil

Adzan maghrib berkumandang dari masjid besar di jalan utama bazaar. Para lelaki Kargil berjalan bergegas memasuki masjid. Di sekitarnya tampak pedagang pakaian sedang bersiap membuka lapaknya di pinggir jalan. Tampaknya mereka adalah pedagang pakaian bekas.

Lepas maghrib para pedagang itu telah siap menawarkan dagangannya. Pakaian bekas yang masih tampak seperti baru bertumpuk di gerobak panjangnya. Kebanyakan pakaian itu berupa jaket dan pakaian khas musim dingin, dari ukuran anak hingga dewasa.
Udara semakin dingin, angin berhembus membawa hawa dingin dari perbukitan di atas. Kami pun bergegas kembali ke hotel. Dalam langkah kaki, kami tergelitik untuk mendengarkan riuh para pedagang pakaian itu menawarkan dagangannya. Saling menjajakan dengan suara keras, bersaing memberikan harga terendah.

“Jacket 100 Rs, come…” Pedagang satu menawarkan dagangannya.
“Here 90 Rs.” Pedagang di sebelahnya memberikan tawaran lebih rendah. Dan lucunya kembali pedagang yang menawarkan 100 Rs menurunkan 80 Rs, dibalas lagi oleh yang lain menurunkan 70 Rs.

Sungguh aneh namun kocak kelakuan mereka, membuat yang mendengarnya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Kota kecil Kargil, meski dengan kondisi suhu hampir 0 derajat Celcius menawarkan suasana kehangatan bagi hati dan sanubari.

You Might Also Like

4 comments

  1. Mantep banget tempatnya mbak.. pengen skali kali mengunjungi ke india xixiix.. kalau saya 0 derajat uda gakan kuat mba... uda mati rasa tu mba.. btw disana ramah2 yaaa.. jadi pengen kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di area Kashmir ramah-ramah, kadang suka lupa Kashmir itu masih bagian dari India. Kalau di daratan yang dinamakan hindustan hati-hati aja kalau ada yang ramah, biasanya ada maunya hehehe biarpun ga semua negatif ya tapi kebanyakan begitu.

      Delete
  2. membaca dan menyaksikan foto-foto diatas, sepertinya rasa dingin di Ladakh menjadi hangat dengan nuansa lain yang terasakan diwilayah tersebut ya, makanya bisa jadi hangat deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sambutan orang-orangnya hangat, kebanyakan baik orang-orang di area Kashmir.

      Delete

Popular Posts