Menengok Geliat Kota Leh Dalam Perjalanan ke Ladakh India

05:25




Suara petasan berulang kali memecahkan keheningan kota Leh. Malam itu meski tak banyak orang merayakan Diwali di Ladakh, namun suara petasan pertanda perayaan Diwali cukup membuat orang terjaga dalam gigitan hawa dingin.
Kami keluar menuju balkon. Memandangi jalan raya di depan kami, dimana tak sampai 15 orang berkumpul dan merayakan Diwali dengan petasannya. Beruntung penginapan yang kami sewa meski murah tapi cukup nyaman dan memiliki balkon yang bisa menjadi tempat untuk memandang sekitar. Monastery di atas bukit hingga pegunungan bersalju menjadi pemandangan yang mewah.

Pemandangan dari balkon

Pemandangan gunung dari balkon
Malam semakin larut, namun rasa kantuk dan lelah tak dapat melelapkan. Bukan karena suara petasan, kemungkinan karena oksigen yang semakin tipis di malam hari. Saat berjalan di Main Bazaar sore tadi, kami tak merasakan lelah sedikitpun padahal menurut cerita lumayan banyak yang terserang AMS meski masih berada di kota Leh. Kota ini memang sebagai persinggahan bagi yang akan melanjutkan perjalanan ke area pegunungan Ladakh lainnya.

Terutama yang menggunakan perjalanan udara tentu membutuhkan istirahat minimal 2 hari agar tubuh dapat melakukan penyesuaian terhadap kondisi tempat yang cukup tinggi. Dan kota Leh sendiri memiliki ketinggian 3500 meter di atas permukaan laut.
Akhirnya saya memaksa diri untuk dapat terlelap bagaimanapun kondisinya, karena esok pagi kami masih harus mengurus permit untuk bisa pergi ke Nubra dan Pangong.

Paginya, hawa dingin semakin menusuk, sleeping bag, selimut tebal dan pakaian bertumpuk tak banyak menolong. Tapi kami berusaha bangkit dan menyeduh kopi hangat. Tak bisa benar-benar panas karena hanya beberapa saat kopi dihidangkan sudah terasa hilang panasnya. Tiga cangkir kopi instan yang 4 bulan lalu kami beli di Big C Bangkok menemani pagi kami bersama roti mentega dan roti selai. Beruntung pemilik penginapan memiliki toko kelontong dan bahan pangan persis di bawah penginapan, jadi tak sulit bagi kami untuk mendapatkan roti tawar yang fresh. Sedangkan mentega dan selai tentunya saya bawa dari rumah seperti biasa dalam setiap perjalanan panjang kami.

Uncle Pemilik penginapan
Tak lama setelah sarapan kami pun mengunjungi toko uncle pemilik penginapan untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana mengurus permit dan kondisi alam saat itu. Pemilik penginapan ini sangat ramah, tampaknya beliau dan istrinya merupakan keturunan Tibet. Mereka tinggal di salah satu kamar penginapan yang berada dekat dengan kamar yang kami sewa. Sayangnya kami lupa menanyakan namanya, hanya selalu memanggil mereka uncle dan aunty saja.

Dari informasi pemilik penginapan kami disarankan untuk bertanya ke kantor pusat informasi bagi turis, yang letaknya tak jauh dari Main Bazaar. Selain itu beliau juga menyarankan untuk mengunjungi Rancho school yang terkenal di kalangan penggemar film Bollywood, selagi kami berada di Leh.

Dalam waktu 10 menit saja kami sudah berada di pusat informasi untuk turis. Petugasnya sangat informatif, sopan dan ramah. Membuat saya berpikir lagi apakah benar ini masih tanah India, karena begitu kontrasnya manusia-manusia yang saya temui.
Permit dibutuhkan bagi yang ingin bepergian ke Nubra, Pangong dan sekitarnya. Bukan mempersulit tetapi karena kondisi daerah yang berbatasan dengan beberapa negara membuat pemerintah India lebih ketat dalam mengecek setiap data pengunjung dan memberikan ijinnya.

Namun tak sulit juga dalam mendapatkan permit ini, meskipun saya pemegang paspor non India, permit saya dapatkan tak lebih dari 15 menit saja.
Untuk pemegang paspor non India begini cara mendapatkan permit.

Pergilah ke salah satu agen tour yang punya reputasi bagus di mata pemerintah Ladakh, yang disarankan oleh pusat informasi turis adalah Geographic Tour lokasinya tak jauh dari kantor tersebut. Saya pun mengajukan pembuatan permit di sana, hanya dengan berbekal paspor saja, petugas tour yang mengisikan form hingga mengurus permit di Tourist Permit Center. Saya hanya duduk manis selama 15 menit kemudian membayar sebesar 700 Rs jadilah permitnya.

Namun biasanya jika kamu mengambil paket wisata  Ladakh maka sekalian permit diurus oleh tour tersebut. Yang harus kamu lakukan adalah jeli dalam memilih biro tour agar tidak terlalu mahal dan mendapatkan layanan yang memuaskan.

Turis permit center
Sedangkan untuk pemegang paspor India, mereka bisa mengurus sendiri ke Tourist permit Center dengan membawa copy paspor, dan identitas lainnya seperti aadhar card. Pembayaran permit juga tak jauh dari harga turis manca negara yaitu 520 Rs untuk 6 hari berkunjung ke wilayah Nubra dan Pangong Tso. Jadi bisa dikatakan pihak tour hanya mengambil 120 Rs untuk jasa (sekitar Rp.24.000).

Selesai dengan urusan permit kami pun berjalan di area Main Bazaar karena memang harus melewati area tersebut untuk kembali ke tempat dimana mobil kami parkir. Saat itu sudah masuk jam makan siang. Sebelum kembali ke tempat parkir kami mampir untuk mengisi perut. Udara dingin dan jalan kaki yang jaraknya lumayan membuat perut kami terasa lapar.
Main Bazaar Leh Ladakh
Pilihan kami jatuh pada resto Kang La Chen yang menawarkan masakan Tibet. Sejak perjalanan ke Parvati Valley tahun lalu, saya menyukai masakan Tibet yang cita rasanya sungguh Asia. Akhirnya setelah satu tahun kembali saya bisa merasakan Thukpa. Thukpa adalah mie rebus dengan rasa rempah yang nendang banget, biasanya disajikan dengan isian telur dan sayuran atau dengan campuran daging ayam. Kali ini kami memilih Egg Thukpa dan sepiring Veg Momo.

Egg Thukpa
Egg Thukpa kali ini rasanya kurang nendang, cenderung hambar. Demikian juga dengan Momo yang kami pesan jauh rasanya jika dibandingkan dengan warung-warung kecil di area Himachal yang banyak etnis Tibetian. Setelah kami memperhatikan ke arah dapur ternyata tukang masaknya adalah orang-orang Punjabi, hanya saja memang pemilik resto merupakan keturunan Tibet. Tentu saja rasanya jauh dibanding dengan yang memasak orang asli Tibet.
Meski sedikit kecewa kami tetap menghabiskan Thukpa yang ada di hadapan kami, namun Momo masih tersisa setengahnya di piring saji.

Veg. Momo
Cukup memenuhi rongga perut, kami memutuskan untuk kembali berjalan di area Main Bazaar Leh. Suasananya tak seramai kemarin sore, namun penjual Apel dan sayuran masih banyak berjajar di pinggir jalan. Saya tak pernah melihat Apel impor di India, meski mungkin tanahnya tak sesubur Indonesia yang terkenal negara agraris. Kini saya tau mengapa India lebih bangga mengkonsumsi Apel dan buah lokal lainnya. Apel Ladakh berwarna merah ranum, tampak sekilas berkilau seperti Apel itu adalah hiasan atau mainan yang cantik. Saya pun tergoda untuk menyentuhnya. 

Apel Ladakh
Ternyata asli! Satu kilo Apel Ladakh pun akhirnya mengisi backpack saya. Sembari berjalan menikmati hiruk pikuk main Bazaar kami pun menikmati Apel ladakh yang ranum.
Tak hanya penampakannya saja, namun bagi saya Apel Ladakh ini adalah Apel terenak yang pernah saya cicipi.

Souvenir Ladakh

Cincin Perak dengan Batu Asli Ladakh
Area Main Bazaar tak hanya dipenuhi oleh penjual buah dan sayuran, tak juga hanya jajaran resto yang dominan dengan masakan Western maupun Tibetian, toko souvenir, jaket tebal hingga perhiasan. Pusat kota Leh banyak terdapat lapak-lapak khusus milik pengungsi Tibet. Mereka berjualan souvenir khas Tibet dan perhiasan etnik yang cantik. Sebagai penggemar pernik etnik tentunya lapak-lapak ini menarik saya untuk mengunjungi lebih dekat. Perhiasan perak maupun tembaga kaya dengan bebatuan warna warni menggoda. Batu-batuan ini dihasilkan oleh pegunungan Ladakh sendiri. Emerald (zamrud), Aquamarine, Garnet, Calcite Rose, Meteorite, Fulgurite merupakan batu-batu mulia yang paling banyak dihasilkan oleh pegunungan Ladakh. Selain itu saya juga melihat perhiasan dengan batu-batu lain seperti Moonstone, Safir, Ruby, dan Giok yang diikat dengan logam perak.
Sungguh cantik menggoda, harganya pun tak terlalu mahal. Kamu bisa menawarnya dengan harga yang kamu anggap wajar jika ingin membelinya. Jangan khawatir, para Tibetian ini cukup murah senyum dan informatif dalam berjualan.

Tak jauh dari Main Bazaar ada beberapa pasar lainnya yang bisa dicapai dengan berjalan kaki, itupun kalau kamu tidak terkena gejala AMS ya, seperti cepat lelah dan pusing-pusing. Saya sarankan di hari pertama menginjakkan kaki di kota Leh sebaiknya pergi ke toko obat untuk membeli Diamox dan obat-obatan lain yang kamu butuhkan. Diamox adalah obat untuk mengatasi gejala AMS, mudah ditemukan di toko-toko obat sekitar Main Bazaar.

Bazaar Ladakh
Kami mencoba berjalan ke salah satu pasar yang entah apa namanya karena tertulis dengan tulisan keriting. Tampak warna-warni selimut tebal tertumpuk untuk dijajakan, warnanya sangat atraktif. Ternyata penjualnya merupakan pendatang dari Rajashtan yang biasa disebut Rajashtani. Tentunya selimut-selimut itu tak diragukan lagi pasti didatangkan langsung dari Rajashtan yang memang terkenal dengan industri selimut. Di sudut lain tampak penjual sepatu atau kaos kaki khas daerah dingin. Terbuat dari kulit, velvet dan wool dengan hiasan bordir khas Ladakh. Harganya hanya kisaran 120-150 Rs saja tergantung dari bahannya.

Sepatu musim dingin - Ladakh
Tak terasa hari semakin sore, suhu udara semakin turun. Meski demikian geliat aktifitas masyarakat Leh di pusat kota belum surut. Para pedagang yang biasa berjualan saat sore hingga malam mulai berdatangan, begitu juga pengunjung. Tampak orang-orang berjalan hilir mudik dengan pakaian yang makin tebal, dilapis dengan mantel panjang untuk menghalau hawa dingin. Saya pun tak berani lagi mengenakan sandal jepit seperti saat pertama menginjakkan kota Leh. Menghindari kebekuan berada dalam dinginnya alam Ladakh.

You Might Also Like

10 comments

  1. Baca postingan yg ttg ladakh ini, sumpah aku jd pgn bgt ksana mba. Lg itung2an nih, butuh brp lama supaya sebanding ama cutiku yaaa :D. Suka bgt ama kota yg seperti ini.. Dinginnya dapet, bisa berbaur ama orang lokalnya, dan kulinernya kyknya memang enak. Kalo berempah gitu, biasanya pasti sesuai ama aku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau membaur dan mengenal keadaan tempatnya jangan jadi turis hehe... kebanyakan orang Indonesia cuma jadi turis aja, short time kunjungan cuma ke tempat2 wisatanya. Padahal jauh lebih menarik kalau kita bisa ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi turis. Melihat dan mencermati kegiatan penduduk lokal, kuliner lokal.

      Delete
  2. Hai kak.. enak bqnget jalan2 disana.. btw jangan lah kak pake sandal pasti kedinginan. Hrus pake sepatu yang bener2 twrtutup yaa hehehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepatu sih bawa, tapi karena menggunakan mobil pribadi jadi kebiasaan pake sandal aja keluar mobil kalau ga harus jalan di jalanan yang ekstrim. Waktu awal nyampe Leh sempat pake sandal aja keluar mobil hehe...

      Delete
  3. Blogpostnya detail banget, jadi bisa membayangkan Kota Leh Dalam, dan mupeng.
    Masukkan ke wishlist travelling ah, moga bisa berkunjung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...justru di luar kotanya lebih keren lagi. Leh kalau menurut saya biasanya buat transit saja :)

      Delete
  4. Salam kenal mba :) wah asik banget bisa kesini btw aku penasaran sama Thukpa n Momo emang hambarnya gimana mba?*halah aku kok fokusnya makanan mulu* ahhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. tergantung bikinnya sih itu...momo kan dumpling ya macam somay china gt lah... klo hambar ya karena kurang garam ama bumbu

      Delete
  5. Veg Momo itu dimataku mirip sama pempek sebelum digoreng, mbak. Terus apel Ladakh warnanya itu emang agak magenta gitu ya? Aku jadi penasaran karena pemandangan dan barang-barang yang dijual itu unik-unik, padahal ini buat transit ya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda...Momo itu dumpling rasa juga jauh dari pempek. Bisa dibilang transit iya... mau explore kotanya juga bisa tapi ya ga semenarik di luar kotanya.

      Delete

Popular Posts