Menjerat Oksigen Dalam Perjalanan Ke Pegunungan Ladakh India

11:05


 

Hari masih sangat pagi ketika kami melanjutkan perjalanan di Ladakh, India. Meninggalkan Kargil yang pagi itu suhunya hanya 3 derajat celcius. Kendaraan umum dan taxi juga sudah mulai bergerak menuju Srinagar maupun Leh yang merupakan kota terbesar di Ladakh.
Tak jauh dari Kargil kami pun berhenti sejenak untuk menghirup banyak-banyak oksigen pegunungan yang sangat segar terasa mengalir dalam tubuh. Tentunya juga untuk menikmati pemandangan indah lembah dimana Kargil dan sekitarnya tampak tertata indah oleh alam.

Perjalanan dari Kargil ke Leh jaraknya lumayan sekitar 220 kilometer. Pemandangan pegunungan coklat dan lembah menguning kemerahan masih menjadi sajian utama di sepanjang jalan. Pegunungan ini memang merupakan pemandangan khas jika kamu melakukan trip ke Ladakh menggunakan jalur darat.
Kenapa sih banyak dianjurkan untuk menggunakan jalur darat untuk trip ke Ladakh?
Yang jadi alasan utama agar tubuh kita perlahan bisa menyesuaikan dengan kondisi pegunungan yang sangat tipis ketersediaan oksigennya. Biasanya yang menggunakan jalan darat lebih besar kemungkinan untuk terhindar dari AMS (Acute Mountain Sickness). Alasan lain tentunya agar dapat menikmati pemandangan yang luar biasa dari pegunungan Ladakh sepanjang perjalanan.

Puncak Namika La
Dari Kargil menuju Leh kami melewati beberapa puncak jalan yang termasuk tinggi. Namika La mountain pass pertama yang kami lewati ketinggiannya 3700 meter di atas permukaan laut. Kemudian disusul dengan Futu La yang merupakan jalan pegunungan tertinggi di antara Srinagar dan Leh, ketinggiannya mencapai 4018 meter di atas permukaan laut.
Namun keduanya bukan merupakan yang tertinggi di kawasan pegunungan Kashmir lho.

Yang menarik saat melintasi keduanya, kami melewati gugusan pegunungan bergradasi warna. Coklat dengan semburat gradasi merah, ungu, hijau kebiruan yang sangat unik. Warna-warni itu ternyata menandakan banyaknya jenis mineral yang terkandung dalam gunung.
Pada masing-masing puncak baik Namika La maupun Futu La, ditandai dengan bendera-bendera kecil khas Tibet. Bendera-bendera ini memiliki fungsi khusus bagi pemeluk agama Buddha Tibet sebagai sarana doa. Pada masing-masing lembar tertulis mantera dalam tulisan Tibet. Jadi diletakkan di tempat tinggi dimaksudkan agar lebih mudah doa-doa tersebut untuk sampai ke Yang Maha Kuasa.
Meski kedua puncak tersebut memiliki ketinggian yang lebih dibanding dengan Zoji La, namun untuk melintasinya sangat mudah, tak ada sensasi kengerian seperti yang diberikan oleh Zoji La. Hanya saja saya mulai merasakan sedikit letih, pusing dan susah bernafas saat berada di Futu La.

Futu La
Perjalanan panjang di Ladakh tak membuat kami bosan, pemandangan pegunungan bermineral mulai berganti dengan gugusan pegunungan yang menyerupai penampakan daratan di bulan. Pantas saja area ini dinamakan Moonland. Lamayuru merupakan town yang biasa disinggahi oleh para pelancong untuk menikmati pemandangan Moonland. Tak jarang juga mereka bermalam di Lamayuru untuk bisa mengunjungi beberapa tempat yang dianggap menarik oleh mereka.
Moonland Ladakh
Di Lamayuru terdapat beberapa penginapan kecil dan resort di pinggir sungai hingga homestay yang merupakan bilik kecil terbuat dari batu. Tinggal pilih mau seperti apa tempat untuk bermalam. Lamayuru juga dikenal dengan keberadaan monastery yang berada di atas bukit. Lumayan juga lho untuk naik ke atas jika tanpa kendaraan.
Mobil kami pun tak lepas dari permintaan untuk menumpang menuju ke atas monastery. 
Lamayuru Monastery
Sayang ketika sampai di atas loket pembelian tiket masuk monastery sedang tutup karena jam istirahat siang. Kami pun akhirnya hanya melihat-lihat dari luar monastery saja. Pemandangan dari atas monastery menurut saya tak kalah menarik dibandingkan dengan berkunjung ke dalam monastery. Mata memandang luas pada gambaran landscape yang dikatakan seperti daratan di bulan. Bebatuan menjulang dan datar tertata apik.
Lamayuru - Moonland Ladakh
Setelah menikmati keunikan Moonland di Lamayuru, kami pun meneruskan perjalanan ke  Leh. Sepanjang perjalanan masih melewati liukan sungai di sebelah kanan dan tebing dinding batu yang menjulang tinggi di sebelah kiri. Di perjalanan banyak kami lewati papan peringatan agar berhati-hati terhadap longsornya batu-batu dari tebing. Dan memang akhirnya perjalanan kami sedikit terhenti karena adanya longsor beberapa kilometer di depan. Kendaraan umum atau taxi, juga para backpacker yang berkendara motor berhenti untuk menunggu kabar dari  petugas pemelihara jalanan di area itu.
Untungnya sekitar 15 menit saja kami menunggu hingga jalan bisa dilewati lagi.

Hanya 30 kilometer jaraknya sebelum kami mencapai kota Leh, kami melewati area magnetic hill yang termasyhur. Sekilas tak ada yang istimewa, hanya beberapa mobil yang dimatikan mesinnya beserta orang-orang yang mengambil photo tampak bergerombol. Entah benar perbukitan ini mengandung magnet yang bisa menarik kendaraan di sekitar atau seperti pendapat secara ilmu pengetahuan bahwa fenomena yang terjadi di daerah magnetic hill  ini merupakan konsep ilusi optik dalam neurosains. Dalam bahasa awam, seperti ini kamu melihat kondisi dan keadaan berbeda dengan kondisi fisik aslinya.
Dari banyaknya ilusi optik, ada yang dinamakan gravity hill. Merupakan kemiringan lereng yang tampak sedikit sekali menanjak atau malah tak tampak sama sekali, namun aslinya jalanan itu menanjak. Nah, bukit magnet atau magnetic hill ini merupakan fenomena ilusi optik, meski kami merasakan sensasi mobil tertarik ke belakang ataupun berat untuk maju seperti ada kekuatan yang menarik mobil. Padahal kondisi aslinya jalan yang datar itu merupakan jalanan bukit yang lumayan menanjak.
Ingin melihat dan merasakan langsung? Coba saja masukkan dalam list kamu untuk wisata ke Ladakh.
Bukit Magnet
Melewati bukit magnet mobil kembali melaju. Pemandangan kanan kiri masih merupakan padang pasir dan perbukitan. Warna kuning kecoklatan masih menjadi warna utama dalam perjalanan ini, hingga sampai di area kota Leh.
Leh bukanlah kota yang besar namun merupakan yang terbesar di kawasan Ladakh. Dimana Ladakh masih merupakan area di kawasan Jammu & Kashmir state. Biasanya orang mengira Ladakh dan Kashmir adalah daerah yang berbeda, namun tidak begitu adanya. Pegunungan Ladakh merupakan perpanjangan dari pegunungan Kunlun hingga ke arah puncak Himalaya. Memiliki keindahan tersendiri yang tak kalah dengan area perbukitan Kashmir atau orang lokal menyebutnya Kashmir valley.

Masuk kota Leh dari arah Srinagar, kami melewati bandar udara yang biasa melayani penerbangan lokal. Jadi, yang tak memiliki banyak waktu untuk perjalanan darat ke Ladakh, bisa menggunakan penerbangan lokal dari Srinagar maupun Delhi.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore, musim gugur belum berganti namun udara Leh saat itu sudah sangat dingin. Mobil kami pun meluncur memasuki kota menuju main bazaar.

Main Bazar Leh
Suasana main bazaar sore itu sangat ramai, terutama di toko penjual sweet dan pernik khas India. Hari itu adalah sehari sebelum Diwali, jadi malamnya akan menjadi malam perayaan Diwali. Tak heran beberapa etnis India berbelanja untuk merayakan hari raya Diwali.
Penduduk Leh memang terdiri dari banyak etnis, Tibetian, Ladakhi, dan Kashmiri merupakan etnis terbesar di Leh. Sedangkan Punjabi dan etnis India lainnya merupakan pendatang tak sebanyak ketiga etnis tersebut.

Ternyata tak mudah menemukan makanan di sore hari. Kebanyakan restauran belum memasak untuk makan malam, sedangkan ketersediaan bahan sudah habis terjual saat makan siang tiba. Ya, Leh tampaknya tak pernah sepi oleh pengunjung.
Dari yang berambut blonde hingga bermata sipit banyak memenuhi jalanan di main bazaar. Tak hanya untuk trip singkat ke Ladakh, sepertinya beberapa dari mereka menghabiskan waktu lebih lama di Leh untuk mempelajari kebudayaan dan tradisi masyarakat sekitar.
Dal Rice ala Leh
Akhirnya kami menemukan kafe kecil yang masih memiliki persediaan makanan untuk dihidangkan. Meskipun hanya Dal Rice saja yang tersisa tapi sungguh nikmat. Saya sangat menyukai Dal ala Kashmir. Berbeda dengan di daerah India lainnya, jika menyebut Dal di sini yang tersaji pastilah kacang merah atau disebut Rajma.
Sepiring nasi dan sayur kacang merah serta teh hitam menghangatkan badan kami saat itu. Sembari mencari sinyal internet yang menghilang seiring dengan berkurangnya oksigen yang dapat kami jerat dalam tarikan nafas.


Monastery : Biara agama Buddha Tibet

Dal : Khas India terbuat dari kacang-kacangan yang biasanya telah dihilangkan kulit arinya.

Rajma : Kacang merah yang di Kashmir biasa juga dinamakan dal namun tidak dihilangkan kulit arinya.

You Might Also Like

10 comments

  1. Wah menarik sekali mba, saya penggemar film India, pengen suatu saat kesana melihat Taj Mahal tfs ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau peninggalan islam banyak lho di India ga cuma Taj Mahal. Yang jauh lebih tua ada di Gujarat :)

      Delete
  2. Pernah baca beberapa artikel yang bikin kekuatan magnet seolah ada di bukit itu. Moga kapan2 bisa ke sana TFS :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya seperti kekuatan magnet padahal itu ilusi optik aja. Let me know kalau mau berkunjung ke India ya :)

      Delete
  3. kabarnya Nabi Isa pernah mengembara ke India di masa mudanya dan juga ke Nepal. dan srinagar ini juga termasuk yg dilewati, hmmm asyiknya mbak bisa ke Ladakh .. aku suka film india hahaha jadi tergila gila dg pemamdangan yg disuguhkan, mudah2an bisa sampe ke sana :-*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada cerita legenda yang ga tau kebenarannya bagaimana. Tapi beberapa kelompok muslim di sini meyakini bahwa nabi Isa memang ke Kashmir dan sampai akhir hayatnya di sana, bahkan ada yang mengklaim sebuah makam adalah makam nabi Isa. Juga tentang orang-orang Kashmir dianggap sebagai cucu moyang keturunan nabi Isa, karena wajah-wajah mereka dikatakan menyerupai gambaran nabi isa,wallahu'alam...

      Delete
  4. Melihat foto Dal Rice ala Leh kok yang terbayang dalam pikirankku malah nasi putih, bistik kentang sama sambal goreng tempe. Hehehe. Beda jauh tentunya ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheh... daerah J&K state memang terkenal dengan masakan kacang merahnya, enak banget meski ga ada dagingnya :)

      Delete
  5. Yg bikin aku penasaran banget pengen ke daerah tinggi di mana oksigen tipis, sbnrnya pgn tau sensasi AMS nya itu mba hihihi.. Prnh baca buku mba trinity trs ada buku traveling yg menulis pas dia ke daerah mongol, dan ke dataran tingginya, sampe muntah2.. Hahaha aku justru pgn tau seperti apa rasanya kalo berada di tempat bgitu :D. Pasti deh, aku bakal datangin suatu hari nanti :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa jangan pengen kena AMS, kalau parah bisa menyebabkan kematian lho... Alhamdulillah saya kemarin ga kena, karena mungkin lumayan penyesuaiannya di jalan. Teman saya laki-laki di Chang La sempat ambruk jatuh ke tanah lho Mba, akhirnya didudukkan muntah-muntah banyak banget. Nanti ada ceritanya... belum nyampe situ hehe...

      Delete

Popular Posts